Repelita [Jakarta] - Budayawan senior Mohamad Sobary melancarkan kritik pedas yang menyoroti tajam metamorfosis politik serta ambisi kekuasaan mantan Presiden Joko Widodo.
Perubahan tabiat yang drastis selama memegang tampuk pimpinan tertinggi negara dinilai telah menghilangkan kesadaran serta akar jati diri aslinya.
ADVERTISEMENT
Polemik keabsahan dokumen akademik yang terus bergulir turut diungkit sebagai bagian dari watak kekuasaan yang enggan mengakui kekalahan.
"Jokowi tidak mau kalah. Meskipun sebenarnya nalar kita mengatakan tidak mungkin ijazah ini asli," ujar Sobary.
Tekanan bertubi-tubi dari publik membuat yang bersangkutan memilih bertahan di tengah pusaran kritik tanpa penyelesaian substantif.
"Musuhnya Jokowi itu berlapis-lapis, tuntutan yang berlapis-lapis. Jokowi tidak mau kalah," katanya.
Transformasi status sosial masa lalu ditarik sebagai perbandingan kontras antara kondisi awal kehidupan sederhana dengan limpahan kekayaan material saat ini.
"Duit punya dan ini sesuatu yang dilapis-lapis. Kalau Jokowi adalah Jokowi Wong Deso, mari kita tarik Jokowi sebagai orang pinggir kali. Ya otomatis miskin," ujarnya.
Lingkungan kultural masa lalu tersebut membentuk pola kelas sosial tersendiri sebelum meroket ke panggung kekuasaan nasional.
"Orang pinggir kali hidup dalam kelas sosial semacam itu. Sekolahnya keteter semacam itu, segalanya parah," lanjut Sobary.
Lonjakan otoritas dan materi mengubah perangai dasar tersebut menjadi kekuatan hegemonik yang dipandang melampaui batas kewajaran.
"Tapi dia kan tidak seperti itu, dia sudah berubah menjadi suatu monster yang sangat menakutkan," imbuhnya.
Gejala kejiwaan megalomania dituding turut menggerakkan berbagai fenomena politik praktis demi melanggengkan pengaruh rezim sebelumnya.
"Punya duit, pernah berkuasa, pernah memiliki ambisi sangat besar. Pernah merasa dirinya megalomania. Aku orang besar," katanya.
Pencitraan figur sederhana di ruang publik dinilai sekadar topeng untuk menutupi gelora syahwat kekuasaan yang membara.
"Tapi ditampilkan dalam wujud orang kecil-orang kecil, saya dihina-sehina-hinanya, ya modal seperti itu sosok yang tidak begitu jelas," ujarnya.
"Anda megalomania yang berlebih-lebihan, nampak pun megalomania itu. Bukan dalam tingkah laku dia, tapi megalomania dalam fenomena-fenomena-fenomena lapangan," sambung Sobary.
Puncak dari hasrat otoriter tersebut diejawantahkan melalui proses suksesi yang mengantarkan sang buah hati menduduki kursi orang nomor dua negeri.
"Maka ketika anaknya menjadi Wapres dan menempuh segala cara. Oh dituruti megalomania ini. Hasrat berkuasa yang menggelega itu. Itu dituruti semua," katanya.
Kondisi psikologis tersebut diklaim membuat yang bersangkutan kehilangan pijakan moral serta melupakan asal-usul kehidupannya.
"Dan itu membuat dia hilang dari dasar-dasar dirinya, dia lupa siapa sebenarnya dirinya," ujarnya.
Lemahnya fondasi literasi formal turut diseret sebagai pemicu utama hilangnya kesadaran diri di tengah pusaran hegemoni istana.
"Nah lupa diri semacam itu tanda memang pendidikan tidak bagus," cetusnya.
Sorotan tajam turut diarahkan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ihwal rendahnya kapasitas intelektual dalam mengelola negara.
Respons sang wakil presiden pasca pemilu terkait cibiran publik dinilai telak mengonfirmasi ketiadaan kualitas kepemimpinan yang memadai.
"Anaknya itu kan tidak tahu bahwa dia bodoh. Tempo hari ingat sesudah Pilpres dia menepuk dada. Beberapa hari yang lalu saya dianggap pelonga-pelongo. Terus saya bilang, emang kamu sekarang tidak pelonga-pelongo? Memang sesudah kau menjadi wakil presiden kau tidak pelonga-pelongo? Kau tetap pelonga-pelongo," tandas Sobary.
Pergantian jabatan struktural tinggi dipastikan tidak akan mampu mengubah esensi kapasitas berpikir seseorang secara instan.
"Orang yang berpikir tentang kapasitas akademik tetap kau pelonga-pelongo. Biar kau jadi apapun kau pelonga-pelongo. Tidak akan berubah," ujarnya.
"Ketololan tetap ketololan. Tidak berubah. Banyak Bung di Republik ini kalau kita berjalan di jalan gitu untuk mencari orang yang diatasnya Wapres," pungkasnya.(*).
Editor: 91224 R-ID Elok