Repelita Jakarta - Aktivis dan akademisi Bang Syukur Mandar menyampaikan kritik mendalam terhadap sistem politik Indonesia melalui unggahan di akun TikTok @syukurmandar.
Dalam video tersebut, ia menegaskan bahwa pintu masuk kerusakan bangsa ini ada pada sistem politik, sistem partai, sistem pemilu, dan sistem hukum.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, jika sistem-sistem itu berhasil ditembus dan diperbaiki, maka tugas utama selanjutnya adalah melawan oligarki partai.
Bang Syukur Mandar mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi.
Konstitusi secara jelas menyatakan bahwa membentuk partai, berkumpul, dan berserikat merupakan hak dasar.
Namun, di Indonesia proses pembentukan partai justru sangat rumit.
Ia menilai kerumitan itu sengaja dibuat sebagai gerbang pertama untuk menyaring kekuasaan agar hanya dikuasai segelintir orang.
Partai politik di Indonesia, kata dia, dikelola berdasarkan kepemilikan keluarga.
Padahal konstitusi menetapkan partai sebagai institusi publik.
Oleh karena itu, publik berhak mengoreksi seluruh proses seleksi di dalam partai.
Partai tidak boleh mengklaim bahwa penentuan ketua umum sepenuhnya menjadi hak internal mereka.
Menurut Bang Syukur Mandar, seseorang atau partai hanya menjadi relevan jika memperoleh insentif publik melalui pemilu.
Partai yang gagal melewati ambang batas parlemen, katanya, tidak dihargai dan tidak dihormati.
Mereka harus berjuang keras di luar jalur parlementer.
Ia juga menyoroti model tata kelola kekuasaan di Indonesia yang tidak terbatas.
Hukum di Indonesia cenderung dibentuk berdasarkan selera pihak yang berkuasa.
Sebagai contoh, ia menyinggung adanya klausul dalam undang-undang kepolisian yang membuat perpanjangan masa jabatan Kapolri bergantung pada kebutuhan presiden.
Jika kekuasaan politik dikelola berdasarkan kebutuhan semata, maka sepanjang peradaban bangsa ini akan tetap berada di titik yang sama.
Bang Syukur Mandar membandingkan dengan Amerika Serikat, di mana presiden tidak bisa membentuk kabinet sesuka hati.
Ia juga menyebut kabinet saat ini bukan sekadar gemuk, melainkan sudah obese.
Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk kekhawatiran terhadap arah demokrasi yang dinilai semakin jauh dari semangat konstitusi.
Ia menekankan pentingnya perbaikan sistem agar kekuasaan tidak terus terpusat pada kelompok terbatas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
@syukurmandar ♬ suara asli - Bang Syukur Mandar