Repelita [Jakarta] - Pembelaan resmi disampaikan oleh pihak kesekretariatan lembaga kepresidenan guna menjawab gelombang kritik atas tingginya frekuensi perjalanan dinas luar negeri yang dilakukan kepala negara.
Alasan mendasar di balik padatnya jadwal kunjungan internasional tersebut diklaim sebagai respons strategis terhadap dinamika politik global yang tengah tidak menentu.
ADVERTISEMENT
Melalui keterangan video yang dipublikasikan pada Selasa (2/6/2026), dijabarkan posisi kepemimpinan nasional yang baru berjalan di tengah situasi dunia yang sedang didera berbagai krisis hebat.
"Masalah protokoler dan frekuensi ke luar negeri dalam 1,5 tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis," kata Teddy dalam keterangan videonya, dikutip Selasa (2/6/2026).
Kondisi geopolitik internasional saat ini diwarnai oleh ketegangan bersenjata serta konflik vertikal yang melibatkan sejumlah kekuatan besar di Eropa Timur, Amerika Latin, hingga kawasan Teluk.
"Jadi setiap pemimpin tentunya harus membangun hubungan yang dekat antarpemimpin dunia," tambah Teddy.
Langkah interaksi tatap muka dinilai sangat krusial guna membangun fondasi kepercayaan serta kesepahaman emosional yang kuat di antara para kepala pemerintahan secara bilateral.
"Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi," ucap Teddy.
Pihak istana setidaknya mencatat ada tujuh poin keberhasilan konkret dari misi diplomatik tersebut, termasuk bergabungnya Indonesia dalam blok kemitraan finansial global.
"Manfaatnya apa? Ya sekarang ini di tengah konflik dan krisis dunia, situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik. Stok pangan aman," kata Teddy.
Pencapaian berikutnya adalah penandatanganan kesepakatan kemitraan dagang strategis dengan kawasan Eropa Barat yang sempat tertahan selama belasan tahun.
"Tarif 0% di Uni Eropa, ada 25 negara di situ. Dan ini perjanjian yang sudah diurus belasan tahun yang lalu, tapi kapan tercapai? Ya zaman Presiden Prabowo, tepatnya 2025 lalu," ucap Teddy.
Sektor penanaman modal asing juga diklaim mencatatkan rapor positif dengan nilai akumulasi modal yang sangat besar selama kurun waktu satu setengah tahun terakhir.
"Contoh konkret lain, bulan lalu Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan, kembali langsung ada investasi sekitar Rp575 triliun," katanya.
Sektor pertahanan nasional turut mendapatkan keuntungan berupa penguatan jalinan kerja sama militer dengan berbagai kekuatan adidaya dunia.
Fasilitas pelayanan ibadah keagamaan bagi warga negara di tanah suci juga mengalami peningkatan signifikan lewat kepemilikan area akomodasi khusus.
"Indonesia satu-satunya negara yang punya perkampungan haji di Arab Saudi. Dan Saudi sendiri mengubah undang-undangnya agar suatu negara mempunyai lahan di situ untuk digunakan oleh jemaah haji," katanya.
Peran aktif dalam misi kemanusiaan global serta pengiriman bantuan logistik dan medis ke wilayah konflik Timur Tengah turut menjadi pembuktian posisi Indonesia di dunia.
"Kita drop off logistik dari udara sudah beberapa kali. Tidak semua negara bisa, kenapa? Itu harus ada diplomasi dengan negara-negara yang wilayah udaranya dilewati oleh pesawat. Kemudian yang kedua, kita kirim kapal rumah sakit ke Palestina. Kita juga menyekolahkan anak-anak Palestina di universitas di Indonesia," tuturnya.
Poin terakhir dari rangkaian keberhasilan diplomasi tersebut dibuktikan lewat upaya pembebasan warga negara yang sempat ditahan oleh otoritas asing di perairan internasional.
"Saya rasa semua diplomat hebat tahu itu. Jadi kurang elok rasanya kalau itu masih dipermasalahkan ya. Jadi ruang untuk setiap masukan kita terima, tapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai," katanya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok