Berita, Timur Tengah

Serangan Terkait Iran Rusak Fasilitas AWS di Bahrain, Garda Revolusi Ancam Apple, Google, dan Meta

Repelita.id

02 April 2026 23:45 WIB

Serangan Terkait Iran Rusak Fasilitas AWS di Bahrain, Garda Revolusi Ancam Apple, Google, dan Meta
Foto: Istimewa

Repelita Manama - Dampak konflik Timur Tengah kini merembet ke jantung infrastruktur digital global setelah operasi cloud milik Amazon Web Services (AWS) di Bahrain dilaporkan terdampak serangan yang dikaitkan dengan Iran.

Laporan Financial Times menyebut bahwa fasilitas cloud tersebut mengalami kerusakan setelah serangan yang terjadi pada Rabu, 1 April 2026, memicu gangguan layanan dan kekhawatiran baru di sektor teknologi.

ADVERTISEMENT

Insiden ini muncul hanya sehari setelah Garda Revolusi Iran melontarkan ancaman terbuka terhadap perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat melalui pernyataan resmi mereka.

Dalam pernyataannya, pihak Garda Revolusi memperingatkan bahwa perusahaan seperti Apple, Google, dan Meta akan menjadi target jika aksi pembunuhan terhadap pejabat Iran terus berlanjut.

Sedikitnya 18 perusahaan disebut dalam daftar hitam yang dianggap "terlibat" dalam operasi tersebut menurut klaim dari pihak Iran.

Pemerintah Bahrain melalui Kementerian Dalam Negeri mengonfirmasi adanya kebakaran di fasilitas yang ditangani oleh tim pemadam kebakaran sipil setempat.

Namun, otoritas Bahrain tidak secara eksplisit menyebut nama perusahaan yang terdampak dalam pernyataan resmi mereka kepada publik.

Sementara itu, pihak Amazon secara terpisah mengonfirmasi bahwa layanan AWS di wilayah Bahrain sempat mengalami gangguan signifikan pasca kejadian.

Juru bicara Amazon menyatakan bahwa gangguan teknis tersebut dipicu oleh aktivitas drone di sekitar area operasional fasilitas cloud milik mereka.

Perusahaan kini berupaya membantu para pelanggan untuk memindahkan layanan mereka ke pusat data AWS di wilayah lain guna meminimalkan dampak lebih lanjut.

Serangan ini menandai babak baru dalam konflik modern di mana target yang disasar tidak lagi terbatas pada instalasi militer semata.

Target serangan kini meluas ke infrastruktur digital yang menopang perekonomian global, termasuk pusat data dan layanan cloud komersial.

Layanan cloud seperti AWS menjadi tulang punggung bagi ribuan perusahaan mulai dari startup hingga korporasi besar di berbagai sektor.

Sektor-sektor tersebut meliputi layanan keuangan, logistik, komunikasi, dan berbagai industri digital lainnya yang bergantung pada konektivitas.

Ketika pusat data terganggu, efeknya bisa meluas dengan cepat mulai dari layanan aplikasi yang lumpuh hingga potensi kerugian ekonomi yang sangat signifikan.

Dalam konteks konflik modern ini, perang tidak lagi hanya soal penguasaan wilayah dan penggunaan senjata konvensional.

Perang kini juga menyangkut tentang kendali atas data, jaringan, dan infrastruktur digital yang menjadi urat nadi peradaban kontemporer.

Komunitas internasional kini mencermati eskalasi ini dengan penuh keseriusan karena serangan terhadap infrastruktur sipil berpotensi memperluas spektrum konflik.

Peningkatan risiko bagi sektor non-militer menjadi perhatian utama karena dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat sipil secara langsung.

Di tengah ketegangan yang terus meningkat, satu hal menjadi jelas bahwa garis batas antara perang fisik dan perang digital semakin kabur.

Ketika server dan pusat data ikut menjadi sasaran serangan, dunia diingatkan bahwa medan tempur abad ini tidak hanya berada di darat, laut, atau udara.

Medan pertempuran baru juga berada di dalam jaringan yang tak kasatmata namun sangat vital bagi kelangsungan hidup modern.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung