Berita, Internasional

Sepakat dengan Amerika, Bandara Kertajati bakal jadi pusat MRO pesawat C-130 Hercules untuk pasar Asia

Repelita.id

19 May 2026 20:49 WIB

Sepakat dengan Amerika, Bandara Kertajati bakal jadi pusat MRO pesawat C-130 Hercules untuk pasar Asia
Foto: Istimewa

Sepakat dengan Amerika, Bandara Kertajati bakal jadi pusat MRO pesawat C-130 Hercules untuk pasar Asia

Repelita Jakarta - Kawasan penerbangan internasional kertajati yang terletak di daerah jawa barat diproyeksikan bakal menjelma menjadi pusat pemeliharaan serta perbaikan armada pesawat angkut militer berbadan besar untuk skala regional.

ADVERTISEMENT

Rencana strategis mengenai pemanfaatan infrastruktur kedirgantaraan tersebut mencuat ke publik dalam agenda pertemuan formal antara jajaran menteri pertahanan bersama dengan para anggota komisi legislatif pusat hari ini.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menguraikan bahwa peluang investasi sektor pertahanan ini bermula dari penawaran kerja sama taktis yang diajukan secara langsung oleh pihak otoritas militer washington.

Langkah ini diambil mengingat sampai saat ini belum ada satu pun negara di kawasan asia tenggara yang memfasilitasi kebutuhan bengkel berkala untuk jenis armada angkut taktis udara tersebut.

”Dia menawarkan, dan ini tidak ada di negara ASEAN, dia menawarkan bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia saya pusatkan di Indonesia atas biaya kami. Saya tidak bisa jawab langsung. Saya lapor Bapak Presiden, kasih (izin penggunaan Bandara Internasional) Kertajati. Kita sedang bekerja untuk itu,” ucap Sjafrie.

Meskipun pucuk pimpinan kementerian belum menjabarkan rincian teknis operasionalnya secara mendalam jajaran birokrasi pertahanan memastikan bahwa proses sinkronisasi regulasi kini tengah dimatangkan bersama instansi terkait.

Pihak kementerian pertahanan membenarkan adanya komitmen awal untuk mengonversi sebagian area landasan komersial tersebut guna memperkuat kemandirian sektor industri pertahanan dalam negeri serta menunjang aspek logistik udara.

”Terkait pernyataan Bapak Menhan tersebut, saat ini memang terdapat rencana untuk menyiapkan kawasan Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules di kawasan Asia,” ujarnya.

Pemilihan lokasi pelabuhan udara di wilayah majalengka ini didasari atas pertimbangan matang mengenai ketersediaan ruang pembangunan yang masih sangat luas serta kesiapan instrumen navigasi yang mumpuni.

Proses pengondisian fasilitas perbengkelan aviasi militer bertaraf internasional ini nantinya akan digulirkan secara berkala hingga mampu memposisikan indonesia sebagai simpul utama perawatan kedirgantaraan global.

”Sejalan dengan upaya penguatan kemandirian industri pertahanan dan dukungan logistik penerbangan strategis nasional,” tegasnya.

Dalam kesempatan sidang pleno yang sama pihak kementerian juga memaparkan dinamika pembicaraan bilateral dengan sejawatnya dari blok barat yang terjadi di markas pentagon pada beberapa waktu yang lalu.

Pertemuan awal antarkedua tokoh militer tersebut sejatinya bermula dari forum dialog keamanan regional hingga berlanjut pada penyampaian sikap resmi mengenai doktrin pertahanan berdaulat yang dianut indonesia.

”Anda tidak ofensif, anda hanya jaga anda punya halaman dan rakyat, dan anda siap kalau diserang, siap untuk mempertahankan diri. Saya dukung. Itu yang disampaikan tersirat pada waktu itu kepada saya,” kata Sjafrie menirukan keterangan Hegseth.

Selain memberikan impresi positif pihak luar negeri juga sempat menyelipkan keinginan sepihak agar korps penerbangan mereka diberikan izin melintasi ruang udara domestik ketika menghadapi kondisi mendesak.

Namun merespons usulan verbal tersebut jajaran kementerian secara diplomatis menyatakan bahwa segala kebijakan teritorial pertahanan harus tunduk pada keputusan akhir sang panglima tertinggi angkatan bersenjata.

”Jadi, saya jawab, pak menteri walaupun ada harapan, tapi saya akan lapor kepada presiden saya karena dia adalah panglima tertinggi dari Tentara Nasional Indonesia,” imbuhnya.

Pihak otoritas pertahanan nasional juga menepis berbagai rumor miring di ruang publik yang menuduh adanya kesepakatan pemberian akses bebas bagi pergerakan armada udara asing di atas wilayah nusantara.

Dirinya meluruskan bahwa dokumen yang diteken di washington murni merupakan piagam niat baik untuk meningkatkan kemitraan dan sama sekali tidak memuat pasal keterikatan komitmen militer yang merugikan kedaulatan.

”Itu adalah Letter of Intent. Bukan Letter of Commitment. Jadi, kami tidak bikin komitmen apa-apa dengan Amerika Serikat dalam hal udara, tidak. Kami mempertahankan konstitusi dan kami mempertahankan kita punya kepentingan nasional,” tegasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung