Repelita Jakarta - Perdebatan mengenai sosok Gibran Rakabuming Raka sebagai salah satu kandidat pemimpin nasional kembali ramai di media sosial setelah muncul pernyataan mengenai citra dan rekam jejaknya.
Dalam unggahan pada 8 September 2026, Arif Wicaksono menanggapi pernyataan Dedy Nur yang sebelumnya menyebut Gibran sebagai anak muda yang mendapat perhatian luas dan dinilai berpotensi menjadi salah satu kandidat pemimpin nasional.
ADVERTISEMENT
Arif mempertanyakan alasan perlunya membangun narasi mengenai sosok tersebut apabila masyarakat dinilai sudah memiliki pandangan sendiri mengenai Gibran.
“Kalau anak muda ini nggak perlu dibuatkan narasi, kenapa masih kerja keras bikin narasinya? 😂 Rakyat udah cerdas mas @DedynurPalakka, Yang “beragam” di kepala mereka itu: Nepotisme, Putusan MK, Ijazah yang dipersoalkan, dan anak yang dipaksakan jadi pemimpin nasional. Pamornya diangkat dari atas, bukan tumbuh dari bawah, "menarik perhatian” karena bapaknya saat itu presiden dan pamannya ketua MK, bukan karena rekam jejak yang berdiri sendiri. Apa hebatnya???”
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari percakapan publik mengenai bagaimana popularitas seorang tokoh politik terbentuk, termasuk faktor keluarga, keputusan politik, serta rekam jejak pribadi yang menjadi bahan penilaian masyarakat.
Dedy Nur sebelumnya menuliskan pandangannya pada 7 September dan menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sudah mempunyai beragam cerita serta penilaian mengenai sosok anak muda yang dimaksud.
“Kalau anak muda ini ngga perlu saya buatkan narasi, karena di kepala rakyat Indonesia cerita tentang anak muda ini sudah sangat beragam. Tapi, satu hal yang cukup jelas bahwa anak muda ini adalah salah satu kandidat pemimpin nasional yang menarik banyak perhatian. Apalagi”
Dedy kemudian kembali merespons dengan menyatakan bahwa pernyataan yang disampaikan Arif merupakan opini pribadi dan setiap orang perlu terbuka terhadap pandangan berbeda yang beredar di ruang publik.
“Setuju 👍 Ini namanya opini pribadi dan kita juga perlu membuka diri atas opini pribadi lain yang secara kebetulan disengaja beredar bebas di media sosial. Itulah demokrasi, di mana percakapan atas pikiran yang tidak sama bisa terus berlanjut. Anda menilai GRR dari sudut”
Perbedaan pandangan itu kemudian memancing komentar pengguna lain yang turut mempertanyakan latar belakang serta perjalanan politik Gibran sebelum mencapai posisi sebagai Wakil Presiden.
Akun @budionocovv mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan perjalanan Gibran apabila tidak memiliki ayah yang pernah menjabat sebagai Presiden dan paman yang pernah memimpin Mahkamah Konstitusi.
“Coba Gibran klo Bapaknya bukan Presiden dan pamannya bukan Ketua MK kira2 Gibran ngapain ya sampe sekarang”
Sementara itu, akun @JackSparow86b menyoroti proses demokrasi dan menilai kemenangan dalam kontestasi politik tetap bergantung pada pilihan masyarakat, meskipun seorang kandidat mendapat dukungan dari keluarga maupun partai.
“sudah masuk partai kok masih oon tentang proses demokrasi sih ngul? mau dikatrol bapaknya,mau dibuatin partai buat ngusung tapi kalau rakyat tak memilihnya pasti tak jadi.contohnya @AgusYudhoyono bahkan untuk jadi gubernur pun gagal bahkan saat pilpres diprank anies dan cak imin”
Komentar lain disampaikan akun @wansrosadi yang menilai pemberian narasi positif terhadap Gibran tidak otomatis mengubah persepsi masyarakat terhadap sosok tersebut.
“Gibran gak usah dikasih narasi yg bagus2 aplg yg rahul ato ngayawara. Krn di benak rakyat, jika ingat Gibran otomatis jadi inget bocah tua tengil yg planga plongo. Dipoles sehebat apapun tetap aja kek plenger. Lesu dan bengong.”
Akun @syueb2011 kemudian mengarahkan pembahasan pada pengalaman wawancara Gibran dengan jurnalis yang pernah berbincang langsung dengannya di sebuah program televisi.
“Tanya @Rosianna766Hi yang pernah mewawancarainya dalam acara @Rosi_KompasTV”
Komentar bernada singkat juga muncul dari akun @edibas81 yang memberikan penilaian terhadap para pendukung Gibran.
“Namanya juga cinta buta”
Selain itu, akun @gadahmaja999 mempertanyakan capaian Gibran selama menjalankan tugas sebagai Wakil Presiden dengan menyindir kegiatan kunjungan ke berbagai daerah.
“klo disuruh ngelist apa yg sudah dilakuin selama 2 tahun jd wapres, paling isinya: mengunjuingi daerah ini, dateng ke daerah itu”
Pertanyaan mengenai dasar menjadikan Gibran sebagai gambaran kesuksesan anak muda juga disampaikan akun @SalamIbnuammaar dengan menyoroti sejumlah aspek yang dapat menjadi ukuran keberhasilan.
“Menjadikan Gibran sebagai model anak muda sukses itu diawali dari mana? Sekolah, bisnis, kreatifitas, atau faktor apa?”
Rangkaian komentar tersebut memperlihatkan adanya perbedaan tajam dalam menilai posisi Gibran di panggung politik nasional, mulai dari soal popularitas, latar belakang keluarga, proses demokrasi hingga rekam jejak pribadi.
Perdebatan di media sosial itu juga menunjukkan bahwa penyebutan Gibran sebagai kandidat pemimpin nasional masih memunculkan respons beragam dari masyarakat, baik yang melihatnya sebagai figur potensial maupun yang mempertanyakan dasar serta proses terbentuknya popularitas tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Kalau anak muda ini nggak perlu dibuatkan narasi, kenapa masih kerja keras bikin narasinya? 😂
— Arif Wicaksono (@arifbalikpapan1) September 8, 2026
Rakyat udah cerdas mas @DedynurPalakka,
Yang “beragam” di kepala mereka itu:
Nepotisme, Putusan MK, Ijazah yang dipersoalkan, dan anak yang dipaksakan jadi pemimpin nasional.… https://t.co/UDjBxYkJDp