Repelita Teheran - Selat Hormuz dilaporkan belum sepenuhnya aman meski gencatan senjata mulai berlaku, karena ancaman ranjau laut yang masih tersisa di jalur strategis tersebut.
Laporan terbaru menyebut sebagian ranjau yang dipasang Iran selama konflik tidak seluruhnya terdokumentasi dengan baik sehingga menyulitkan proses pencarian.
ADVERTISEMENT
Beberapa perangkat peledak disebut dapat hanyut mengikuti arus laut, menjadikannya ancaman bergerak yang sulit dilacak di kawasan pelayaran padat.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran baru karena Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan energi dunia.
Sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi wilayah tersebut sehingga gangguan keamanan berpotensi memengaruhi pasar internasional.
Di tengah situasi itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak agar jalur pelayaran segera dibuka kembali pascagencatan senjata.
Namun pembukaan penuh dinilai tidak mudah selama ancaman ranjau masih berada di bawah permukaan laut.
Iran sebelumnya menyatakan kesiapan membuka kembali jalur utama, tetapi kondisi lapangan memaksa pengaturan rute alternatif bagi kapal yang melintas.
Langkah tersebut diambil sambil memperingatkan risiko tabrakan atau ledakan jika kapal memasuki area yang belum dipastikan aman.
Garda Revolusi Iran meminta seluruh kapal mengikuti jalur yang telah ditentukan demi menjaga keselamatan pelayaran.
Situasi ini menunjukkan ketegangan di kawasan belum sepenuhnya berakhir meski pertempuran mulai mereda.
Selat Hormuz kini tetap menjadi titik rawan yang dapat memengaruhi keamanan regional maupun stabilitas ekonomi global.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok