Berita, Nasional

Selamat Ginting Heran Prabowo Rekrut Qodari Dan Hasan Nasbi Yang Dianggap Produk Riject Era Jokowi

Repelita.id

15 May 2026 15:30 WIB

Selamat Ginting Heran Prabowo Rekrut Qodari Dan Hasan Nasbi Yang Dianggap Produk Riject Era Jokowi
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Keputusan strategis mengenai penempatan posisi krusial di dalam lingkaran utama struktur perwakilan komunikasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus memicu gelombang perdebatan sengit dari berbagai pengamat

Langkah politik berupa penunjukan Muhammad Qodari selaku nakhoda utama di Badan Komunikasi Pemerintah serta penempatan Hasan Nasbi pada posisi Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi dinilai penuh tanda tanya besar oleh publik

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut memicu reaksi keras dari seorang analis politik terkemuka, Dr. Selamat Ginting, yang secara terang-terangan menyampaikan rasa heran mendalam atas sikap kepemimpinan nasional yang memilih mempertahankan kedua figur kontroversial tersebut

Keheranan mengenai arah kebijakan penunjukan jabatan ini disampaikan secara terbuka saat dirinya hadir menjadi pembicara utama dalam program bincang-bincang digital di kanal YouTube resmi milik Forum Keadilan TV

Melalui pemaparan materi yang disiarkan pada hari Kamis malam, 14 Mei 2026, akademisi senior dari Universitas Nasional tersebut menguliti habis rekam jejak serta persepsi publik terhadap kedua tokoh komunikasi tersebut

Dalam argumen lisan yang disampaikannya, ia mempertanyakan landasan mendasar perekrutan dengan menyatakan “Publik kan menganggap bahwa ini salah satu kelemahan (pemerintah) ada di Qodari dan Hasan Nasbi. Tapi pertanyaan yang penting adalah mengapa dia direkrut kembali? Kan begitu,” secara lugas

Dirinya secara blak-blakan memberikan penilaian objektif bahwa figur Hasan Nasbi beserta koleganya Muhammad Qodari merupakan sosok lama yang identik sebagai produk sisa dari masa kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo

Pakar politik tersebut kemudian memaparkan analisis mendalam bahwa motif utama di balik penarikan kembali kedua nama tersebut ke lingkaran istana lebih didasari oleh kalkulasi politik strategis jangka panjang pemerintah

Faktor keahlian dalam membaca serta mengarahkan opini publik secara masif melalui jalur survei disinyalir menjadi alasan utama mengapa rekam jejak digital masa lalu mereka dikesampingkan oleh pihak penguasa

Berdasarkan analisisnya, kemampuan memanipulasi persepsi masyarakat di era modern saat ini dianggap memiliki bobot nilai yang setara dengan kecakapan teknis dalam merumuskan sebuah kebijakan publik formal negara

Kritik tajam dari sang akademisi kemudian bergerak menyasar agenda kerja terbaru dari lembaga Bakom yang dinilai mengundang kecurigaan publik setelah mengumpulkan puluhan pengelola media baru secara masif

Langkah taktis pengumpulan puluhan entitas media digital baru tersebut dicurigai sebagai sebuah upaya terselubung dari pihak otoritas untuk memproduksi pasukan siber formal demi mengamankan jalannya roda pemerintahan

Terkait fenomena pengumpulan media baru tersebut, ia menyampaikan kekhawatiran mendalam dengan menegaskan “Nah ini memang menarik soal pertemuan badan komunikasi pemerintah dengan new media yang kemudian sekarang dikritik, ini pemerintah apa sedang membangun buzzer-buzzer baru karena ini dianggap homeless,” di hadapan pemirsa

Pada akhir sesi pemaparannya, ia mendesak transparansi penuh dari pihak istana agar tidak memunculkan opini negatif di tengah masyarakat bahwa negara sengaja memelihara pasukan siber untuk membungkam kritik oposisi

Ia menutup pandangan kritisnya tersebut dengan memberikan sebuah penekanan serius berupa kalimat “Jadi memang harus ada penjelasan detail, jangan sampai ada kesan pemerintah itu menghidupkan buzzer untuk melawan oposisi,” secara tegas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung