Berita, Nasional

Sebut pencopotan Purbaya pemicu rasa jengkel, Ray Rangkuti cium perselisihan Kemenkeu dan Danantara soal tagihan Rp128 triliun

Repelita.id

15 September 2026 19:57 WIB

Sebut pencopotan Purbaya pemicu rasa jengkel, Ray Rangkuti cium perselisihan Kemenkeu dan Danantara soal tagihan Rp128 triliun
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Perombakan kabinet yang berujung pada pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan secara tiba-tiba terus memicu teka-teki serta spekulasi di tengah publik.

Pengamat politik Ray Rangkuti menyampaikan analisisnya mengenai latar belakang di balik langkah mendadak yang diambil oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut.

ADVERTISEMENT

Ia mengungkapkan adanya kabar yang menyebutkan terjadinya gesekan hebat antara Purbaya Yudhi Sadewa dengan pihak Badan Pengelola Investasi Danantara.

Perselisihan tersebut ditengarai bermula dari adanya penagihan kewajiban keuangan dalam jumlah yang amat fantastis dari Kementerian Keuangan kepada lembaga tersebut.

Kendati demikian, kabar yang beredar tersebut ditegaskan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak terkait.

"Dengar infonya sih, kena ada rasa jengkel. Jadi memang ini resapil karena disebabkan jengkel mungkin," ujar Ray, dikutip Selasa (15/9/2026).

Ray menjelaskan lebih terperinci mengenai munculnya klaim tagihan bernilai puluhan triliun rupiah yang disinyalir menjadi pemicu perselisihan internal.

"Katanya ada semacam permintaan dari Kemenkeu yang lama ya, yang baru diganti Pak Purbaya terhadap Danantara terkait tagihan sekitar Rp128 triliun," tukasnya.

Hubungan komunikasi antara jajaran Kementerian Keuangan di bawah kepemimpinan Purbaya dengan pihak Danantara pun dikabarkan semakin memanas setelahnya.

"Nah dengar-dengar info itu kemudian ya adalah semacam ketegangan antara Danantara dengan Pak Purbaya," ucap dia.

Kondisi hubungan yang makin tidak harmonis tersebut diduga kuat memicu reaksi cepat dari pimpinan tertinggi negara sekembalinya dari lawatan luar negeri.

"Nah dan mendengar itu katanya Pak Prabowo tiba-tiba sepulang dari India seperti yang sekarang ini melakukan reshuffle," sebutnya.

Pengantian posisi bendahara negara tersebut dipandang sangat mengejutkan lantaran tidak pernah tampak adanya gejolak maupun tanda-tanda awal pergantian kabinet.

"Padahal, ini rasanya tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada awan, tidak ada pelangi, tidak ada apa-apa. Tiba-tiba diganti," jelasnya.

Ray lantas membandingkan keputusan mengejutkan ini dengan rumor rencana perombakan kabinet yang sempat berembus menjelang momentum pertengahan Agustus.

Dalam skenario awal yang beredar di ranah publik, rotasi kepemimpinan justru menyasar pada deretan posisi wakil menteri di kementerian teknis.

"Lebih karena ingin mengganti Wamentan, lalu Wamen imigrasi dan pemasarakatan ya. Tapi malah keduanya malah sampai sore ini ya setau kita nggak diganti," bebernya.

Mekanisme pergantian pejabat yang sejatinya menyasar jabatan wakil menteri justru tertahan, sementara posisi strategis Menteri Keuangan justru diganti secara mendadak.

"Belum dicari penggantinya gitu ya, nanti tiba-tiba Pak Purbaya justru yang diganti gitu," imbuhnya.

Berlandaskan dinamika sosial-politik tersebut, pencopotan Purbaya disimpulkan amat kental dengan nuansa emosional dan faktor ketidaksenangan personal.

"Nah itu yang saya sebut ini kriterianya ini kriteria jengkel gitu. Pak Prabowo jengkel sama Purbaya karena bersitegang dengan Danantara," tandasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung