Berita, Nasional

Sebut Gibran Kartu Mati untuk Pilpres 2029, Amien Rais Ungkap Kesedihan Mendalam Jokowi

Repelita.id

16 September 2026 21:37 WIB

Sebut Gibran Kartu Mati untuk Pilpres 2029, Amien Rais Ungkap Kesedihan Mendalam Jokowi
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Tokoh politik senior Amien Rais kembali memberikan penilaian mendalam mengenai dinamika politik nasional dan kondisi psikologis yang sedang dihadapi oleh Joko Widodo.

Melalui tayangan di kanal YouTube Amien Rais Official pada Sabtu, 12 September 2026, ia memaparkan analisisnya mengenai masa depan politik keluarga mantan presiden tersebut.

ADVERTISEMENT

Mantan Ketua MPR RI tersebut berpandangan bahwa mantan kepala negara saat ini sedang dirundung kesedihan serta kebingungan yang amat sangat mendalam.

Kondisi tersebut dipicu oleh situasi politik putra sulungnya yang dinilai sudah menemui jalan buntu menuju kontestasi elektoral mendatang.

Ia menegaskan tekad kuat dari pihak keluarga agar Gibran Rakabuming Raka tetap bisa maju berkompetisi pada pemilihan presiden tahun 2029 nanti.

Upaya keras tersebut tetap diusahakan karena adanya anggapan bahwa eksistensi politik sang ayah sangat bergantung pada posisi jabatan anaknya.

Kendala besar yang dihadapi bersumber dari gerakan penegakan hukum dan konstitusi yang dimotori oleh sejumlah pakar hukum serta para purnawirawan.

Langkah hukum yang digulirkan oleh Denny Indrayana bersama rekan-rekan sejawatnya ke Mahkamah Konstitusi berpotensi menutup ruang gerak politik tersebut.

Gugatan resmi yang dilayangkan ke lembaga peradilan pada Kamis, 10 September 2026 kemarin menuntut adanya sanksi diskualifikasi terhadap wakil presiden.

Desakan pencopotan jabatan itu didasarkan pada polemik keabsahan berkas syarat administrasi pendidikan yang digunakan saat pemilu lalu.

Amien Rais menambahkan bahwa situasi politik saat ini sudah berbalik arah dan tidak lagi menguntungkan bagi posisi politik keluarga Surakarta.

Ia menilai figur putra mahkota telah menjadi kartu mati dalam percaturan politik nasional sehingga mustahil untuk dicalonkan kembali.

Lebih lanjut ia mengibaratkan situasi pelik yang dialami sang mantan penguasa seperti filosofi masyarakat Jawa mengenai hukum sebab akibat.

Segala problematika yang datang beruntun di masa pensiun ini merupakan buah dari hasil perbuatan yang telah ditanam sendiri selama masa menjabat.

Menutup pandangannya ia menyarankan agar yang bersangkutan fokus menghadapi potensi persoalan hukum di masa depan dan memperbanyak doa.

Masyarakat diimbau untuk melihat fenomena akhir perjalanan kekuasaan ini sebagai sebuah pelajaran berharga dalam kehidupan bernegara .(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung