Berita, Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.000: Risiko Currency Mismatch Mengintai, Perbankan Klaim Aman

Repelita.id

12 April 2026 22:02 WIB

Rupiah Tembus Rp17.000: Risiko Currency Mismatch Mengintai, Perbankan Klaim Aman
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus merosot hingga melampaui level psikologis baru di angka Rp17.000 per dolar, memicu alarm kewaspadaan di sektor finansial karena secara teori setiap pelemahan rupiah adalah kabar buruk bagi debitur yang memiliki utang dalam denominasi valas namun pendapatannya dalam rupiah.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M Rizal Taufikurahman menjelaskan bahwa ancaman utama dari fenomena ini adalah kredit valas di mana ketika rupiah melemah dari kisaran Rp15.000 ke Rp17.000 maka beban kewajiban debitur otomatis membengkak secara drastis.

ADVERTISEMENT

“Beban kewajiban dalam rupiah bisa naik lebih dari 10 sampai 13 persen tanpa ada perubahan pokok utang. Ini adalah risiko currency mismatch yang nyata,” ujar Rizal.

Namun Rizal memberikan catatan penting bahwa perbankan Indonesia secara sistemik masih relatif aman karena porsi kredit valas dalam struktur perbankan nasional tidak lagi sedominan dulu.

Direktur OCBC NISP Martin Widjaja mengungkapkan bahwa paparan bank terhadap volatilitas dolar saat ini sangat terkendali karena selama 2-3 tahun terakhir korporasi cenderung beralih meminjam dalam mata uang rupiah ketimbang dolar.

“Selama 2-3 tahun terakhir, korporasi cenderung beralih meminjam dalam mata uang rupiah ketimbang dolar. Hal ini membuat portofolio kredit bank jauh lebih terlindungi dari fluktuasi kurs,” kata Martin.

Selain itu para debitur saat ini dinilai jauh lebih teredukasi dan aktif menggunakan instrumen seperti forward serta interest rate swap untuk mengunci nilai tukar sehingga risiko jangka menengah dan panjang dapat dimitigasi.

“Semua dilakukan jauh lebih disiplin untuk menjaga volatilitas tersebut. Secara portfolio kita comfortable dengan aktivitas hedging yang dilakukan,” imbuhnya.

Menariknya pelemahan rupiah tidak melulu dipandang sebagai ancaman karena bagi sektor ekspor yang memiliki pendapatan dalam dolar hal ini justru menjadi peluang ekspansi bisnis.

OCBC NISP bahkan memproyeksikan kredit valas masih bisa tumbuh di level high single digit tahun ini dengan menyasar sektor-sektor berorientasi ekspor tersebut.

Direktur OCBC NISP Johannes Husin menegaskan bahwa koordinasi dengan regulator dan kepatuhan terhadap batas risiko manajemen adalah harga mati untuk memastikan keamanan simpanan nasabah.

“Situasi ini juga kesempatan bagi kami untuk membantu nasabah melakukan diversifikasi portofolio agar tetap tangguh di tengah gejolak geopolitik global,” pungkas Johannes.

Nilai tukar rupiah diketahui masih terus mengalami tren pelemahan di tengah tingginya ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah, di mana posisi rupiah mencetak rekor terendah baru di Rp17.123 pada pukul 10.24 WIB Jumat (10/4/2026).

Level tersebut merupakan titik terendah bagi mata uang rupiah terhadap dolar AS setelah sebelumnya sempat mencapai level terendah di Rp17.105 pada Selasa (7/4/2026).

Namun hingga pukul 11.36 WIB di hari yang sama, nilai tukar rupiah berangsur pulih ke Rp17.101 menurut data Bloomberg yang dihimpun.

Pelemahan nilai tukar rupiah ini telah memaksa Bank Indonesia untuk melakukan intervensi melalui berbagai mekanisme dengan menyatakan stabilitas sebagai prioritas utama.

Bank sentral akan selalu berada di pasar uang baik di spot market, DNDF, maupun NDF di offshore market untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan yang terus berlangsung.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung