Repelita Jakarta - Pengamat politik Rocky Gerung bersama mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan menyoroti adanya pergeseran nilai kebudayaan dan norma sosial yang tengah berlangsung di tengah masyarakat Indonesia saat ini.
Fenomena tersebut dibahas secara mendalam dalam sebuah diskusi interaktif mengenai munculnya kemarahan publik terhadap situasi ketidakadilan yang melibatkan aparatur negara.
ADVERTISEMENT
Melalui unggahan video dari kanal YouTube @BicaraPolitik pada hari Rabu tanggal tiga puluh September tahun dua ribu dua puluh enam, kedua tokoh nasional tersebut membeberkan pandangan kritis mereka.
Rocky Gerung mengawali penjelasannya dengan menganalogikan pergeseran perilaku sosial yang menyimpang dari tatanan budaya tradisional.
Rocky Gerung menyatakan, "guru kencing berdiri murid kencing berlari Sekarang yang terjadi adalah guru kencing berdiri murid kencingin guru Itu I ada ada".
Ia menilai kondisi pelarian gagasan ini bertentangan dengan warisan luhur yang pernah diajarkan oleh tokoh pendidikan nasional.
Ia menambahkan, "pembalikan ide di situ Tetapi kita mau bahas kenapa kultur kita akhirnya berubah begitu Kan ini kan bukan yang diajarkan".
Menurut penjelasannya, sejarah mencatat adanya tokoh pergerakan yang sengaja menanggalkan status kebangsawanan demi bisa menyatu dengan rakyat jelata.
Ia menuturkan, "filosofi dari Ki Hajar Dewantoro atau Iya Ya Siapa nama nama Kijar Dewantoro Suardi Suryanding Suhardi Suwardi Suryandira Ini netizen".
Pakar filsafat tersebut menerangkan kembali mengenai latar belakang pergantian nama figur historis tersebut di hadapan publik internet.
Ia menegaskan, "perlu tahu nih itu orang yang sama itu Kenapa dia memilih nama mengganti nama supaya ee kesan ningratnya hilang toh".
Kondisi tersebut dinilai berbanding terbalik dengan fenomena pemimpin modern yang dinilai haus akan pengakuan kekuasaan dan status sosial.
Ia menyatakan, "Ee ada juga orang ganti nama tapi niatnya lain itu H niat untuk menghilangkan keningratan Sebaliknya ada yang namanya biasa".
Rocky Gerung menyindir adanya figur pemimpin yang justru menggunakan berbagai atribut kepemimpinan demi menciptakan kesan seperti seorang penguasa absolut.
Ia menambahkan, "tapi karena ingin jadi raja ya dia pakai seluruh peralatan raja gimiknya dibikin raja-rajaannya kira-kira gitu Iya Nama depannya JokoJoko".
Setelah melontarkan sindiran mengenai nama depan tokoh tersebut, ia melempar pertanyaan kepada rekan diskusinya mengenai respons dari masyarakat kecil.
Ia menuturkan, "gitu kalau enggak salah ya Itu enggak dia Mul Mul Oh Mul Nih gimana Anis menghadapi itu ada enggak dia".
Merespons pertanyaan tersebut, Anies Baswedan memaparkan bahwa reaksi dari masyarakat kelas bawah merupakan bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan sistemik.
Anies Baswedan menyatakan, "menangkap gejala orang kecil makin melawan kalau soal perlawanan rakyat kecil ini kan cara cara merespon atas sebuah ketidakadilan Apakah".
Ia menilai gerakan yang dilakukan oleh masyarakat tingkat akar rumput cenderung bergerak dalam skala kecil namun memiliki sifat yang masif.
Ia menambahkan, "ini sebuah perlawanan atas ketidakadilan kalau rakyat kecil bereaksi mereka menggunakan metode perlawanan yang kecil-kecil mikro tetapi kolektif Yang namanya".
Lebih lanjut, ia memberikan catatan kritis bagi para perumus kebijakan negara agar selalu menyiapkan strategi mitigasi yang matang sebelum menerapkan regulasi baru.
Ia menuturkan, "policy makers itu enggak boleh hanya mikirin tentang ini yang baru ini penting sebentar Yang lama ini harus ada exit".
Perubahan sebuah sistem atau aturan dinilai pasti akan melahirkan kelompok-kelompok masyarakat tertentu yang merasa dirugikan atau kehilangan haknya.
Ia menegaskan, "Ya Ya Nah jadi ketika kita bikin kebijakan misalnya oke gas yang akan kita lakukan A B C D ingat".
Ketiadaan strategi penyelamatan bagi pihak terdampak dinilai sebagai sebuah langkah yang fatal dalam tata kelola administrasi publik.
Ia menyatakan, "ini akan ada losing party akan ada pihak yang kehilangan Nah yang kehilangan ini harus ada exit strategy ya Apalagi".
Ia menilai pembuatan sebuah regulasi tanpa adanya perhitungan matang mengenai dampak sosial merupakan sebuah kecerobohan besar dalam pemerintahan.
Ia menambahkan, "regulasinya dibuat tanpa mitigasi Konyol emang Iya I dan e kan bisa kita hitung sesuatu yang direncanakan secara massal pasti".
Anies Baswedan juga menceritakan pengalamannya saat memimpin daerah yang selalu mengedepankan ruang dialog untuk meredam potensi konflik horisontal.
Ia menuturkan, "di dalamnya akan ada kekacauan Itu kan kita lihat bahwa potensi itu potensi kemarahan publik itu ada tuh Ketika Anis".
Langkah mitigasi konflik sosial dipandang sangat penting agar gejolak penolakan dari masyarakat tidak berubah menjadi aksi kerusuhan massal yang merugikan.
Ia menegaskan, "bukan berkuasa tapi memerintah Jakarta An yang berkuasa yang yang lain Pada waktu itu Anis berupaya untuk melihat potensi yang".
Di sisi lain, munculnya fenomena gerakan poster protes di berbagai wilayah Pulau Jawa dinilai sebagai cerminan nyata dari kegelisahan warga.
Ia menyatakan, "disebut riot ini bagaimana diselesaikan untuk diajak diskusi atau tetapi mesti ada rencana mitigasi Sekarang kita lihat misalnya tadi betul".
Aksi penyebaran atribut tuntutan hukum tersebut dipandang sebagai hal yang wajar dalam sebuah dinamika sosial politik yang timpang.
Ia menambahkan, "Anis tuh keresan ada di mana-mana tuh sepanjang Pulau Jawa ini bakal dipenuhi oleh poster Adili Jokowi itu unpredatable tapi".
Munculnya berbagai isu sensitif di ruang publik dinilai terjadi akibat akumulasi kekecewaan masyarakat yang tidak tersalurkan dengan baik.
Ia menuturkan, "juga dia mesti kita anggap sebagai sesuatu yang normal tuh dalam keadaan tadi kan dalam keadaan disparitas ide orang akhirnya".
Seluruh fenomena gejolak sosial ini dipandang sebagai bentuk ekspresi kekesalan kolektif terhadap perlakuan hukum yang dinilai tebang pilih.
Ia menegaskan, "anggap oke maksimalkan aja idenya kalau begitu apa sih itu pagar bambu tuh tu apa sih itu topinya si Bahli".
Gerakan kritik yang menyasar mantan kepala negara tersebut dinilai lahir dari persepsi publik mengenai adanya ketimpangan keadilan di masyarakat.
Ia menyatakan, "itu gas itu kan lalu orang berpikir bahwa ya naikin aja isunya tuh yaitu adili Jokowi saya kira apa yang".
Anies Baswedan menyimpulkan bahwa fenomena ini merupakan wujud nyata dari kemarahan massal yang dipicu oleh tindakan tidak adil oknum penguasa.
Ia menutup penjelasannya dengan menegaskan, "dikeluhkan oleh Bang Rogi Kalau saya ekspresikan dalam satu bahasa satu ekspresi adalah public resignment kemaran publik terhadap situasi ketidakadilan yang itu dipertontonkan oleh aparatus negara Yeah".(*)
Editor: 91224 R-ID Elok