Repelita [Jakarta] - Gelombang protes besar-besaran yang digerakkan oleh ribuan warga sipil Israel mewarnai kawasan perbatasan Jalur Gaza pada hari Minggu dengan tuntutan utama merekonstruksi permukiman Yahudi di wilayah konflik tersebut.
Aksi turun ke jalan ini tetap berlangsung secara masif kendati aparat militer setempat telah mengunci rapat area perbatasan dan menjadikannya sebagai kawasan militer terlarang untuk aktivitas publik.
ADVERTISEMENT
Kelompok demonstran bahkan menunjukkan sikap nekat dengan membongkar barikade pengamanan serta pos penjagaan tentara demi mencapai titik kumpul yang berbatasan langsung dengan area peperangan.
Keterlibatan sejumlah menteri kabinet dan tokoh politik beraliran sayap kanan dalam kerumunan massa kian mempertegas adanya restu dari unsur pemerintahan terhadap agenda aneksasi permukiman di Palestina.
Para demonstran tampak mendapat dukungan moral secara langsung melalui kehadiran figur penting seperti Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir bersama Menteri Keuangan Bezalel Smotrich di lokasi unjuk rasa.
Pergerakan massa ini semakin terlihat memiliki muatan politis yang kuat karena dihadiri oleh lebih dari dua puluh delapan anggota parlemen dan menteri dari koalisi pemerintahan pimpinan Benjamin Netanyahu.
Partai Likud yang dikomandoi langsung oleh sang Perdana Menteri bahkan secara terang-terangan bertindak selaku penyokong utama bagi aksi unjuk rasa yang diotaki kelompok pemukim radikal bernama Nachala.
"Saya katakan dari sini, akan ada pemukiman Yahudi di seluruh Gaza," ucap Itamar Ben Gvir memberikan pernyataannya untuk membakar semangat para pendukung yang memadati perbatasan.
Menjelang berlangsungnya aksi, Pasukan Pertahanan Israel sejatinya telah mengaktifkan status zona militer tertutup berdurasi dua puluh empat jam di seluruh area perbatasan guna mencegah penyusupan warga sipil.
Namun lautan manusia yang mulai memadati kawasan Pantai Zikim pada Minggu petang waktu setempat rupanya tidak terbendung dan sukses merobohkan pos penjagaan lapis pertama dalam hitungan menit.
Pasukan keamanan bersenjata yang disiagakan di lokasi dilaporkan terlihat ragu-ragu dan akhirnya memilih untuk menahan diri dari tindakan represif maupun upaya penangkapan terhadap para pelanggar aturan.
Aparat kepolisian dan tentara yang terdesak akhirnya memilih mundur untuk merancang barikade pertahanan baru, sementara lautan massa terus bermanuver mencari celah lintasan alternatif melewati gundukan bukit pasir.
"Kami berjalan hari ini untuk memberi tahu pemerintah Israel dan menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa tanah ini adalah milik kami," ungkap Daniel Sellem selaku salah satu peserta aksi demonstrasi tersebut.
Fokus utama dari pergerakan para pemukim ini adalah menuntut legalisasi secepat mungkin dari pemerintah agar tiga bekas permukiman di wilayah utara Gaza, yakni Elei Sinai, Dugit, dan Nisanit, dapat dibangun kembali.
Sejarah mencatat bahwa dominasi permukiman warga Israel di Jalur Gaza sesungguhnya telah berakhir lebih dari dua puluh tahun silam menyusul kebijakan penarikan mundur seluruh pasukan militer dan penduduk pada tahun 2005.
Titik kumpul terakhir dari iring-iringan unjuk rasa akhir pekan tersebut berpusat di atas sebuah perbukitan strategis yang mengarah langsung ke sisa-sisa reruntuhan permukiman Elei Sinai.
Banyak dari peserta aksi yang berhasil menduduki kawasan dataran tinggi tersebut dan meluapkan euforia mereka dengan mengibarkan bendera kebangsaan Israel secara serentak di hadapan wilayah Gaza.
Insiden ini bukanlah upaya paksa pertama yang dilakukan kelompok pemukim, mengingat pada bulan Desember sebelumnya sekumpulan aktivis juga sempat menerobos masuk ke Jalur Gaza sebelum akhirnya dipukul mundur oleh aparat militer. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok