Repelita Jakarta - Dinamika politik pascapelantikan jajaran lembaga penasihat kepresidenan memicu gelombang perdebatan serta spekulasi tajam dari kalangan pegiat seni budaya nasional.
Publik menyoroti pergeseran haluan dari figur akademisi vokal yang selama ini dikenal konsisten berada di luar lingkar kekuasaan negara.
ADVERTISEMENT
Ulasan analitis bernada sindiran atas keputusan bergabungnya sang kritikus ke dalam struktur birokrasi istana tersebut disampaikan secara terbuka di ruang digital.
Informasi mengenai respons kritis serta spekulasi kedekatan sang tokoh dengan lingkar kepemimpinan nasional itu diunggah melalui platform media sosial Threads.
Unggahan daring tertanggal 2 Oktober 2026 tersebut dipublikasikan secara meluas oleh akun @fiersabesari.
Dalam kiriman digitalnya, sang vokalis mengaitkan sikap diam sang pemikir belakangan ini dengan kompensasi fasilitas jabatan yang diterimanya dari pemerintah.
Akun @fiersabesari menuliskan, "Lama bungkam. Kirain disandera, ternyata dipelihara. Oalah."
Langkah politik tersebut diketahui mengemuka setelah adanya upacara pengambilan sumpah jabatan kedinasan berskala nasional secara kolektif di Istana Kepresidenan.
Prosesi pelantikan pengurus Wantimpres dipimpin langsung oleh Kepala Negara di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada hari Jumat tanggal 2 Oktober 2026.
Sebanyak dua puluh enam orang tokoh dari berbagai latar belakang profesi serta keahlian resmi diangkat demi memperkuat basis pertimbangan kebijakan kepresidenan.
Usai seremoni sakral tersebut, sang pengamat siber membeberkan argumentasi rasional di balik kesediaannya menerima mandat operasional institusi itu.
Saat diwawancarai oleh jurnalis di kompleks istana pada hari Jumat tanggal 2 Oktober 2026, Rocky Gerung menjawab pertanyaan media dengan balik bertanya.
Rocky Gerung menegaskan, "Alasan gua menolak apa?"
Pihak penasihat menilai status barunya di dalam sistem tidak akan menumpulkan ketajaman analisis objektifnya terhadap setiap draf regulasi yang dilahirkan.
Dirinya menggarisbawahi bahwa esensi mendasar dari kedudukan Wantimpres dirancang untuk mengawal keselarasan program melalui koridor pemikiran kritis siber.
Ketika memberikan penjelasan lanjutan mengenai rumusan operasional layanan penasihat kepresidenan pada hari Jumat tanggal 2 Oktober 2026, Rocky Gerung merinci fungsinya.
Rocky Gerung menyatakan, "Dewan ini justru fungsinya kritis. Bukan kritik, ya beda tuh. Kritis terhadap kebijakan."
Komposisi keanggotaan dewan yang baru diangkat tersebut tercatat diisi oleh figur-figur strategis seperti Pratikno selaku Ketua dan Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua.
Selain itu, pos penasihat diisi oleh Shinta Nuriyah Wahid, Muhammad Quraish Shihab, Bambang Soesatyo, Agum Gumelar, Budi Gunawan, Chairul Tanjung, serta Salim Segaf Aljufri.
Jajaran pemikir lain yang ikut dilantik yakni Anwar Iskandar, Said Aqil Siradj, Yahya Cholil Staquf, Philip Kuncoro Wijaya, hingga Budi Tanuwibowo.
Runtutan daftar pejabat Wantimpres diperkuat pula oleh Ida Bagus Purwalaksana, Soekarwo, Jusuf Hamka, Dato’ Sri Tahir, Yusuf Wanandi, Margarito, dan Mohamad Hatta.
Posisi sisa jabatan diisi resmi oleh Muhammad Qodari, Anwar Usman, Zaki Manuputty, serta mantan menteri perhubungan Ignasius Jonan.
Masyarakat menantikan kiprah serta objektivitas jajaran dewan penasihat baru dalam memberikan masukan substantif demi mengawal akuntabilitas pemerintahan ke depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok