Berita, Internasional

Relawan Indonesia Korban Penyanderaan Bongkar Dugaan Penyiksaan Brutal Saat Misi Kemanusiaan Gaza, Mengaku Dipukul, Diinjak hingga Disetrum

Repelita.id

22 May 2026 22:28 WIB

Relawan Indonesia Korban Penyanderaan Bongkar Dugaan Penyiksaan Brutal Saat Misi Kemanusiaan Gaza, Mengaku Dipukul, Diinjak hingga Disetrum
Foto: Istimewa

Repelita Istanbul - Sejumlah relawan kemanusiaan asal Indonesia yang sempat disandera oleh militer asing saat berlayar dalam misi penembusan blokade logistik Gaza membeberkan kronologi kekerasan fisik luar biasa yang mereka alami selama masa penahanan interogasi.

Para pegiat kemanusiaan bersama awak media domestik tersebut secara terbuka menunjukkan jejak trauma kekerasan berupa lebam mendalam serta bekas luka bakar akibat sengatan listrik di sekujur tubuh mereka.

ADVERTISEMENT

Insiden penangkapan paksa tersebut diketahui melanda puluhan utusan perdamaian lintas negara, termasuk sembilan warga negara Indonesia yang dicegat di perairan internasional semenjak awal pekan lalu.

Selain menyasar delegasi tanah air, gelombang penahanan tanpa prosedur hukum formal tersebut turut menimpa barisan aktivis kemanusiaan serta jurnalis asing yang berasal dari kawasan Eropa hingga Asia Timur.

Salah satu korban selamat yang berhasil dievakuasi keluar dari fasilitas tahanan adalah Rahendro Herubowo, seorang pekerja media yang bertugas mendokumentasikan pelayaran kapal logistik tersebut.

Melalui saluran komunikasi digital, dirinya membagikan memori kelam mengenai rentetan intimidasi fisik serta penganiayaan berat yang dilakukan secara sistematis oleh aparat bersenjata selama masa penyanderaan.

Berdasarkan penuturannya, pihak interogator tidak segan melayangkan pukulan serta tendangan keras ke arah bagian vital tubuh saat proses pemeriksaan berlangsung dalam kondisi mata tertutup.

Bahkan, dirinya sempat mengalami tindakan tidak manusiawi berupa penginjakan pada area rongga dada sebelum akhirnya dilumpuhkan menggunakan instrumen kejut listrik bertegangan tinggi.

Dampak dari akumulasi kekerasan fisik selama berhari-hari di sel isolasi tersebut membuat kondisi kesehatan fisik sang jurnalis dilaporkan drop dan kini berada dalam penanganan medis intensif.

"Alhamdulillah kita lagi medical check up tadi habis ambil darah. Kita mau konsultasi soalnya saya mengalami beberapa kekerasan ditendang sampai tiga, empat kali di bagian depan, di belakang juga saya diinjak. Dan terakhir disetrum," ungkap Heru sembari menahan sakit.

Kekejaman serupa juga menimpa rekan seprofesinya, Andre Prasetyo, yang turut menjadi sasaran peluapan amarah dari kesatuan militer penjaga perbatasan tersebut selama proses evakuasi paksa dari dek kapal.

Dirinya mengonfirmasi adanya penggunaan alat setrum yang sengaja diarahkan ke bagian otot paha guna memaksa para sandera menuruti seluruh instruksi dari komando pasukan penyerbu.

"Lu juga kena setrum?" tanya Chiki.

"Setrum di sini (di paha), karena gue bagian terakhir kepala kita harus kayak gini (bersujud ke lantai), udah enggak kuat," kata Andre

Pasca dibebaskan dari pusat penahanan, penderitaan fisik akibat hantaman benda tumpul tersebut masih menyisakan rasa nyeri akut pada bagian pernapasan yang membuatnya kesulitan bergerak normal.

Kendati diselimuti rasa sakit yang luar biasa kala bernapas, awak media ini tetap menaruh harapan besar agar pemulihan fungsi organ tubuhnya dapat berjalan optimal dalam waktu dekat.

"Sekarang saya kalau batuk, sakit di sini (dada) kayak ketarik, angkat tangan sih kayak ketarik. Mudah-mudahan enggak ada apa-apa," imbuh Heru.

Di sisi lain, kondisi fisik korban Andre juga terbilang mengkhawatirkan dengan adanya pembengkakan serta perubahan warna kulit menjadi gelap pada kedua area pergelangan bagian atasnya.

Melihat keparahan efek jeratan pengikat tersebut, rekan sejawatnya menyarankan agar segera dilakukan pemindaian radiologi guna mengantisipasi adanya potensi kerusakan struktur tulang bagian dalam.

"Harusnya dokter sih, ini harus difoto," ujar Chiki.

"Ini udah difoto kok bu tadi sama dokternya," akui Andre.

Kondisi memar kehitaman yang membekas kuat di pergelangan tangan tersebut diakui muncul akibat penggunaan tali pengikat berbahan plastik kaku yang ditarik terlampau kencang oleh petugas.

Akibat sirkulasi darah yang tersumbat total dalam durasi waktu yang lama, dirinya sempat berada dalam fase kritis dan hampir kehilangan kesadaran di lantai penahanan.

"Yang udah sampai Ashdod, di tanah, wah itu udah paling keji itu, paling keji itu, enggak bisa saya maafin. Kepala saya mungkin ini cekung bu, saya nahan karena pakai kepala pakai jidat. Tangan gue di belakang itu mau mati karena dia ngikatnya terlalu tebal akhirnya peredaran darah gue enggak bisa jalan, dan itu bikin gue mau pingsan. Ini ditarik-tarik," ungkap Andre.

Dirinya menambahkan bahwa skenario penerimaan yang ditunjukkan aparat bersenjata di awal proses intersepsi maritim hanyalah sebuah sandiwara guna mengelabui sorotan kamera internasional sebelum kekerasan dimulai.

"Pas diintersep itu mereka kayak malaikat 'everything is okay, is fine'. Masuk ke kapal gedenya (sandera dipukuli dengan keras). Saya lihat Tody, udah lemas bu, udah mau mati," ungkap Andre.

"Ya Allah yang lu terkapar itu?" tanya Chiki.

"Terkapar," akui Thoudy.

Nasib serupa juga menimpa relawan kemanusiaan lainnya bernama Hendro yang terpaksa dievakuasi dengan kondisi kerusakan jaringan lunak berupa lebam pekat di sekeliling rongga mata kirinya.

Saat dimintai keterangan mengenai penyebab utama luka trauma visual tersebut, dirinya memilih untuk bungkam dan mengisyaratkan adanya guncangan psikologis pasca kejadian buruk tersebut.

"Kenapa matanya hen?" tanya Chiki.

"Belum bisa ngomong," akui Hendro seraya smiles.

Sebagai informasi, sembilan nama warga negara Indonesia yang tercatat berada dalam manifes pelayaran armada kemanusiaan global tersebut meliputi Andi Angga Prasadewa, Rahendro Herubowo, dan Andre Prasetyo Nugroho.

Selanjutnya terdapat nama Thoudy Badai, Bambang Noroyono, Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, serta Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo yang kini seluruhnya telah berhasil keluar dari wilayah konflik.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung