Repelita [Yogyakarta] - Sosiolog Oki Madasari memaparkan pandangan kritis mengenai kemunduran agenda reformasi yang dinilai telah mati akibat menguatnya kembali pengaruh militer dalam ruang publik.
Ia menyatakan bahwa salah satu pilar utama dari gerakan reformasi sembilan puluh delapan adalah supremasi sipil, namun realitas saat ini justru menunjukkan hal sebaliknya.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan pengamatannya, terdapat lima sektor strategis di tanah air yang kini mulai dikuasai oleh pola pendisiplinan serta cara berpikir berbasis militerisme.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh penulis sekaligus sosiolog tersebut dalam forum ilmiah yang berlangsung di Universitas Islam Indonesia pada tanggal 19 Mei 2026.
"Agenda utama reformasi adalah penegakan supremasi sipil, sementara yang kita lihat sekarang adalah penegakan militerisme," kata Oki Madasari saat membedah kondisi sosiopolitik kontemporer.
Sektor pertama yang ia soroti adalah politik pemerintahan, di mana terdapat penempatan perwira aktif dalam jabatan struktural kabinet seperti posisi Sekretaris Kabinet.
Indikasi lainnya terlihat dari adanya kegiatan penyamaan persepsi bagi para kepala daerah serta pimpinan legislatif daerah yang diwajibkan mengikuti pelatihan semimiliter.
Pengaruh tersebut dinilai bukan sekadar urusan seragam semata, melainkan sebuah upaya sistematis untuk menyeragamkan cara berpikir para pejabat dalam mengelola administrasi negara.
Sektor kedua dan ketiga yang tidak luput dari kritiknya adalah bidang ekonomi praktis serta pengelolaan wilayah lingkungan hidup dan ketahanan pangan nasional.
Ia mengamati banyaknya purnawirawan yang menempati posisi strategis di badan usaha milik negara serta keterlibatan militer dalam pengelolaan komoditas pangan skala besar.
"Ketika militerisme masuk dalam area lingkungan, maka konflik-konflik agraria yang melibatkan antara rakyat dan pemodal akan semakin merepresi rakyat," ucap Oki Madasari.
Sektor keempat yang menjadi perhatiannya adalah dunia pendidikan tinggi, di mana para penerima beasiswa negara kini mulai diwajibkan mengikuti pelatihan berbau militer.
Model pendidikan asrama yang mengedepankan pola pendisiplinan kaku juga dinilai sengaja dibentuk untuk mencetak generasi muda dengan orientasi berpikir ala militer.
Terakhir, ia mengkritisi upaya penulisan ulang sejarah kebudayaan yang dinilai berupaya menghapus fakta kelam masa lalu serta memoles citra penguasa Orde Baru.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok