Repelita Jakarta - Pegiat pengamat politik ray rangkuti menyampaikan kritik tajam terkait fenomena kemunculan pejabat publik yang menduduki posisi strategis berkat pengaruh keluarga.
Pernyataan tersebut diungkapkan melalui tayangan kanal youtube mrdn66 yang dipublikasikan pada hari rabu tanggal 1 oktober 2026.
ADVERTISEMENT
Dalam pemaparannya, ia menyoroti pencapaian posisi kepemimpinan seperti kepala daerah hingga jabatan wakil presiden yang diperoleh bukan atas dasar kapasitas mandiri.
Pihaknya menilai bahwa pencapaian posisi tersebut sangat lekat dengan faktor kedekatan keluarga alih-alih prestasi individu yang murni.
“Ada yang jadi walikota ada yang jadi wakil presiden dia dapatkan karena bapaknya apakah Anda mau membiarkan Anda dipimpin oleh,” ujar ray rangkuti.
Lebih lanjut, ia menyoroti integritas seseorang yang dinilai tidak jujur pada diri sendiri dalam mengemban janji-janji kampanye kepada masyarakat luas.
“Orang yang membohongi dirinya sendiri dalam bahasa yang lain kalau ia berani membohongi dirinya sendiri apa yang ia tidak bisa,” tambah ray rangkuti.
Ia juga mempertanyakan realisasi program konkret seperti penyediaan lapangan kerja yang pernah dijanjikan kepada publik oleh figur bersangkutan.
“Lakukan untuk membohongi Anda maka janji 19 juta pekerjaan misalnya lkit dirinya aja enggak terjadi apalagi ada gitu kan kan,” tegas ray rangkuti.
Menurut pandangannya, faktor kejujuran merupakan syarat mutlak yang jauh lebih esensial dibandingkan sekadar kepemilikan ijazah maupun tingkat pendidikan formal.
“Syarat penting dari seorang pemimpin tu menurut saya bukan ee ilmu tapi apa kejujuran kalau Anda enggak lolos di,” jelas ray rangkuti.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok