Berita, Timur Tengah

Rahasia gelap militer Israel bocor, pasien gangguan jiwa dipaksa terjun ke medan perang demi Penuhi Kekurangan Personel

Repelita.id

30 March 2026 21:13 WIB

Rahasia gelap militer Israel bocor, pasien gangguan jiwa dipaksa terjun ke medan perang  demi Penuhi Kekurangan Personel
Foto: Istimewa

Repelita Tel Aviv - Sejumlah kantor berita mengungkap rahasia gelap militer Israel di tengah eskalasi perang dengan Iran, di mana ratusan prajurit yang mengalami gangguan psikologis berat termasuk PTSD atau gangguan stres pasca-trauma dipanggil kembali untuk bertugas meskipun masih menjalani perawatan rehabilitasi.

Banyak di antara mereka belum sempat diperiksa oleh komite medis resmi, sebuah proses administratif yang bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun sebelum seseorang dinyatakan tidak layak bertugas karena alasan kesehatan mental.

ADVERTISEMENT

Akibat tekanan dan ancaman yang dilontarkan komandan langsung, sebagian besar prajurit yang masih dalam masa pemulihan akhirnya menyerah dan kembali mengenakan seragam militer meskipun masih dihantui trauma mendalam dari pengalaman sebelumnya di medan perang.

Beberapa komandan bahkan mengancam akan menjerat mereka dengan tuduhan desersi atau meninggalkan tugas tanpa izin jika menolak panggilan tugas, sementara pendekatan serupa juga diterapkan terhadap tentara cadangan yang baru saja keluar dari bangsal psikiatri.

Sejak pecahnya perang dengan Iran pada 28 Februari 2026, media Haaretz mengklaim telah menerima lebih dari 20 laporan serupa dari berbagai kesatuan militer Israel, dan baru setelah ada intervensi pihak militer pada kasus-kasus tertentu, perintah penugasan tersebut dicabut.

Kondisi ini mencerminkan betapa daruratnya kekurangan personel militer Israel di tengah perang multi-front, hingga pasien gangguan kejiwaan yang seharusnya menjalani pemulihan pun dipaksa terjun ke medan perang membahayakan kesehatan mental mereka.

Di saat yang sama, Gerakan Ansar Allah Yaman atau Houthi kembali melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Israel untuk kedua kalinya dalam sehari, dengan juru bicara militer Houthi Brigjen Yahya Saree menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari Perang Jihad Suci.

Saree menegaskan dalam pernyataan yang dirilis pada Ahad (29/3/2026) bahwa Houthi akan melanjutkan operasi militer dalam beberapa hari mendatang hingga Israel menghentikan agresinya terhadap Iran dan Lebanon.

Sementara itu, pengungsi Palestina generasi ketiga sekaligus profesor tamu ilmu politik di University of Alberta, Ghada Ageel, menyampaikan solidaritas mendalam kepada rakyat Iran dalam opininya yang dimuat Al Jazeera pada Sabtu (28/3/2026).

“Kebebasan orang lain sama sekali bukan agenda Barat, terlepas dari retorika publiknya. Imperialisme semacam ini tidak menginginkan kebebasan; ia menginginkan kendali, dominasi, kekuasaan, dan keuntungan,” tulis Ageel dalam opininya yang dikutip Al Jazeera pada Sabtu (28/3/2026).

Sutradara film legendaris Iran Majid Majidi yang dikenal melalui karyanya Children of Heaven menilai Teheran saat ini berada pada posisi simbolis bagi masyarakat tertindas di berbagai belahan dunia, di tengah operasi gabungan yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel.

“Hari ini, Republik Islam Iran mewakili semua orang tertindas dan teraniaya di dunia, berdiri menghadapi rezim Israel dan melawan kebijakan hegemonik pemerintah Amerika Serikat,” kata Majidi melalui pernyataan tertulisnya yang dirilis pada Ahad (29/3/2026).

“Terlepas dari semua kekerasan dan tekanan, rakyat Iran tetap berdiri tegak, mulai dari para pemimpinnya hingga anak-anak sekolah dasar yang tidak berdosa. Mereka semua adalah bagian dari narasi perlawanan suatu bangsa yang tidak mau tunduk pada tekanan,” ucap Majidi dalam pernyataan tertulisnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung