Berita, Nasional

Prof Uceng Heran Warga Makassar Tolak Dandhy Laksono di MIWF 2026 "Sejak Kapan Takut Film"

Repelita.id

15 May 2026 19:16 WIB

Prof Uceng Heran Warga Makassar Tolak Dandhy Laksono   di MIWF 2026  "Sejak Kapan Takut Film"
Foto: Istimewa

Repelita Makassar - Penolakan terhadap rencana kedatangan jurnalis sekaligus sineas Dandhy Laksono di Kota Makassar memicu sorotan tajam dari Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Prof Uceng. Tokoh akademisi asal Sulawesi Selatan ini mengaku sangat terkejut dan nyaris tidak mempercayai kabar miring tersebut saat pertama kali menerima informasinya dari seorang kolega.

“Melihat ini dikirimkan oleh seorang teman, saya nyaris nda percaya,” ujar Uceng dikutip fajar.co.id, Jumat (15/5/2026). Rasa heran yang mendalam dirasakan oleh Uceng karena ia sangat memahami watak sosiologis masyarakat Bugis dan Makassar yang secara historis dikenal memiliki karakter tangguh, terbuka terhadap pemikiran baru, serta tidak pernah gentar menghadapi sebuah gagasan atau karya seni.

ADVERTISEMENT

“Kok bisa? Anak-anak di Kota Makassar, dari suku Bugis maupun Makassar takut dengan film?” tambahnya. Sebagai figur yang pernah menetap lama di ibu kota Sulawesi Selatan dan masih rutin pulang kampung hingga saat ini, ia merasa ada pergeseran nilai yang aneh jika sebuah karya sinematik sampai ditakuti oleh warga setempat.

“Saya yang pernah hidup di sana lama, sampai sekarang reguler pulang dan sangat mencintai daerah itu tentu terkejut. Sejak kapan jadi marah dan takut akan film?” tukasnya. Guna memperkuat pandangannya, Uceng mengaitkan fenomena ini dengan hasil penelitian antropolog asal Prancis, Christian Pelras, yang pernah membedah tatanan dan nilai sosiokultural masyarakat Bugis secara mendalam.

“Saya ingat tulisan lama, kalau tidak salah sekitar tahun 1990-an, tapi merupakan hasil riset sejak 1970-an,” terangnya. Berdasarkan literatur riset kebudayaan tersebut, peradaban Bugis digambarkan bukan sekadar entitas masyarakat yang piawai mengarungi lautan atau gemar pergi merantau ke berbagai penjuru dunia semata.

“Christian Pelras menjelaskan bahwa orang Bugis bukan hanya suku pelaut atau perantau,” sambung dia. Komunitas ini dibentuk oleh fondasi tatanan kemaritiman yang sangat terstruktur, memiliki kepatuhan hukum yang tinggi, serta menjunjung tinggi falsafah kehormatan di atas segalanya.

“Melainkan sebuah peradaban maritim yang kuat dan kompleks, dengan sistem sosial yang rapi, tradisi intelektual kuat, dan budaya kehormatan yang sangat dominan,” jelasnya. Mengacu pada fakta antropologis itu, Uceng kembali menegaskan bahwa ketakutan terhadap sebuah karya audio visual sangat bertolak belakang dengan jati diri masyarakat.

“Takut dengan film kayaknya bukan mereka,” timpalnya. Tidak hanya mengulas suku Bugis, ia juga mengutip pandangan sosiopolitik dari sejarawan asal Amerika Serikat, Leonard Andaya, mengenai karakter dan prinsip dasar yang dimiliki oleh etnis Makassar.

“Mirip dengan Makassar. Sejarawan Amerika Leonard Andaya menggambarkan orang Makassar dengan militansi serta identitas politik yang kuat,” tandasnya. Atas dasar rekam jejak sejarah yang panjang itu, ia tetap menaruh rasa optimis yang tinggi bahwa ruang berpikir masyarakat di Kota Daeng tidak akan menjadi sempit atau kaku.

“Itu sebabnya saya gak percaya. Dan saya yakin, Kota Makassar tak sejumud itu,” imbuhnya. Sikap optimisme ini juga disandarkan pada sebuah falsafah luhur kuno yang menjadi pedoman hidup masyarakat dalam mempertahankan prinsip kebenaran di atas bumi.

“‘Kupare'ngkeng ri boko, kupada'ngkeng ri munri’ adalah pegangan keberanian untuk teguh pada kebenaran. Tentu, tak ada alasan takut pada film,” kuncinya. Kehadiran Dandhy Laksono sendiri sedianya dijadwalkan dalam momentum perhelatan Makassar International Writers Festival 2026 yang akan berlangsung di kawasan cagar budaya Benteng Rotterdam.

Direktur MIWF, M Aan Mansyur, menegaskan bahwa sejak pertama kali diinisiasi belasan tahun silam, festival sastra berskala internasional ini tetap teguh berdiri di atas pilar penegakan hak asasi manusia. “Festival tahun ini tetap membawa nilai yang sama dengan yang kami usung dari tahun ke tahun. Seluruh gerak dipandu oleh prinsip dasar yang kita pegang,” kata Aan saat jumpa pers di Benteng Rotterdam, Rabu (13/5/2026).

Selain fokus pada kemanusiaan, ajang tahunan ini menerapkan aturan ketat terkait kampanye antikorupsi, konsep ramah lingkungan nirsampah, pengurangan emisi karbon, hingga penolakan terhadap ruang diskusi yang didominasi satu gender. “Kami menentang keras all-male panel,” ujarnya.

Kurator festival, Titah AW, memaparkan bahwa agenda kebudayaan tahun ini merangkum ratusan program literasi yang telah dipersiapkan secara matang bagi para pengunjung. “Selama empat hari, akan ada 144 program, 247 panelis, dan 135 mitra kolaborator,” ucap Titah.

Seluruh rangkaian aktivitas tersebut dikelompokkan ke dalam empat subtema harian yang berfokus pada isu ruang kepemilikan, kepedulian sosial, kebebasan belajar, hingga kekuatan keadilan kolektif. Kegiatan edukatif ini dikemas secara variatif melalui ruang pameran seni, diskusi interaktif, pementasan panggung teater, bedah buku baru, hingga pemutaran sinema independen.

Sederet nama penulis dan akademisi lintas negara dijadwalkan hadir mengisi ruang kelas, bersanding dengan deretan tokoh literasi nasional terkemuka seperti Fachruddin Faiz, Okky Madasari, hingga Ika Natassa.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung