Berita, Nasional

Presiden Prabowo Dinilai Tak Paham Agama Terkait Pernyataan Akan Terus Memantau dari Atas Setelah Wafat

Repelita.id

16 June 2026 18:59 WIB

Presiden Prabowo Dinilai Tak Paham Agama Terkait Pernyataan Akan Terus Memantau dari Atas Setelah Wafat
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Ungkapan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan niatnya untuk terus memantau jajaran pembantunya dari atas saat telah dipanggil Tuhan, menuai kritik keras dari berbagai pihak.

Pernyataan tersebut dianggap sebagai cerminan kegagalan sang presiden dalam memahami esensi ajaran agama mengenai kehidupan pascakematian.

ADVERTISEMENT

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Nurmadi H. Sumarta, memberikan tanggapan tajam atas pidato yang belakangan beredar luas tersebut.

“Kalau dipanggil Tuhan, saya tetap monitor kalian dari atas,” ungkap Nurmadi mengutip pidato Presiden, Selasa (16/6/2026).

Ia menilai narasi itu menyiratkan kepemimpinan yang enggan bertanggung jawab dan cenderung melimpahkan segala persoalan kepada para bawahannya saja.

“Seolah semua kesalahan ada di anak buah. Tampak bahwa Prabowo tidak paham agama,” ujar Nurmadi.

Menurutnya, setiap pemeluk agama meyakini bahwa kematian menjadi titik akhir segala urusan duniawi yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan sang pencipta.

“Semua agama juga mengajarkan, setelah mati hanya amal kebaikan dan dosa yang akan dibawa,” tutur Nurmadi.

Ia mengingatkan bahwa kedudukan serta kekuasaan hanyalah hal sementara yang akan ditinggalkan sepenuhnya oleh setiap manusia saat waktunya tiba.

“Kematian seseorang akan memisahkan dari kehidupan dunia. Bahkan Jabatan tidak dibawa mati, tidak kekal, semua akan ditinggalkan dan dilanjutkan mereka yang masih hidup,” imbuhnya.

Nurmadi mempertanyakan urgensi pernyataan itu dan menyarankan pemimpin negara seharusnya fokus bekerja nyata alih-alih melontarkan kalimat yang dinilai aneh oleh publik.

“Trus kalo bisa monitor mau ngapain? Mau marah atau joget gemoy?,” cetusnya.

Ia mengungkapkan bahwa banyak masyarakat di media sosial yang merasa tersinggung dan menganggap pidato tersebut tidak pantas disampaikan oleh seorang kepala negara.

“Banyak netizen melihatnya aneh, bukan lelucon, tidak pantas bahkan ngelantur,” sesalnya.

Nurmadi menegaskan bahwa seorang pemimpin idealnya harus mampu bersikap dewasa dalam merespons setiap kritik yang datang dari masyarakat luas.

“Gestur dan ucapan nyinyir seorang pemimpin terhadap rakyat yang mengkritik, seolah provokatif dan tidak sepantasnya disampaikan dengan cara seperti itu,” tegasnya.

Ia mendesak agar pemerintah segera melakukan koreksi atas berbagai kondisi ekonomi yang dianggap semakin memburuk dan menyengsarakan rakyat.

“Investasi menurun, industrial banyak tutup dan terjadi PHK menambah pengangguran. Lapangan kerja semakin sulit, daya beli menurun,” pungkasnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung