Repelita Jakarta - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang secara terbuka melontarkan kata-kata kasar dalam sebuah pidato resmi menuai kritik tajam dari kalangan akademisi.
Ungkapan kontroversial tersebut disampaikan kepala negara ketika memberikan sambutan dalam acara perayaan hari ulang tahun partai politik tertentu di Jakarta International Convention Center.
ADVERTISEMENT
Momen tersebut berlangsung pada hari Jumat, 18 September 2026, di hadapan para kader dan tamu undangan yang hadir di lokasi acara.
Dalam pidatonya, Prabowo mulanya menegaskan bahwa tekad utamanya adalah mewujudkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai bagian dari sumpah pribadinya.
Namun, situasi pidato mulai menarik perhatian luas ketika kepala negara melontarkan sentiran keras terhadap sejumlah pihak yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah.
"Saya bersumpah ingin melihat Indonesia sejahtera, itu sumpah saya," kata Prabowo, dikutip Sabtu, (19/9/2026).
Kepala negara menilai para pengamat maupun tenaga ahli sering kali melontarkan pandangan yang tidak selaras dengan kondisi nyata di lapangan.
"Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok," sindirnya di hadapan massa pendukung.
Prabowo menambahkan bahwa berbicara di hadapan kelompok pendukung setia memberikan keleluasaan tersendiri dalam menyampaikan gagasan tanpa kekhawatiran dipelintir.
"Ini masalahnya kalau bicara di tengah kawan-kawan sejati. Nanti yang diulang-ulangi itu tadi itu," pungkasnya.
Sikap dan pemilihan kosakata tersebut kemudian memicu reaksi keras dari Ahmad Junaidi, seorang dosen yang bertugas di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Melalui akun Instagram pribadinya pada Sabtu, 19/9/2026, sang pengajar menyampaikan kekecewaannya secara terbuka terhadap teladan yang diberikan presiden.
“Kami di sekolah berusaha mengajarkan komunikasi yang baik. Sayangnya bapak jadi contoh yang kurang baik bagi jutaan siswa Indonesia,” tulis Junaidi dalam unggahannya.
Dosen perguruan tinggi negeri tersebut memahami bahwa kritik dari para akademisi mungkin saja membuat pemerintah merasa tidak nyaman.
Akan tetapi, penggunaan bahasa kasar di ruang publik dinilai mencederai etika kepemimpinan tertinggi di tanah air.
“Akan tetapi, isi dan etika penyampaian Bapak merespons pendapat pakar (yang sebenarnya mengambil risiko ketika mengkritik Bapak) sangat tidak etis. Jutaan siswa melihat apa yang Bapak lakukan dan katakan,” ucapnya.
Sebagai tokoh nomor satu di Indonesia, Prabowo dinilai gagal menunjukkan keteladanan dalam hal menghargai upaya masyarakat memperbaiki negara.
Junaidi berpandangan bahwa kepala negara menunjukkan inkonsistensi sikap terhadap dunia ilmu pengetahuan serta riset akademis.
“Saya tahu Bapak pernah mengatakan bahwa Bapak punya tim ahli, tim pakar, dan gemar sekali membaca. Namun Bapak juga sering sekali menunjukkan ketidakterbukaan bahkan ketidaksukaan pada masukan dan kritik dari pakar kesehatan, kebijakan publik, pendidikan, ekonomi, dan bidang lainnya yang berseberangan dengan pendapat Bapak,” papar Junaidi.
Selain itu, gaya komunikasi pimpinan tertinggi republik ini dinilai kerap melibatkan umpatan verbal yang tidak pantas diucapkan oleh seorang presiden.
“Boleh menggunakan ekspresi verbal seperti ‘goblok’ dan ‘ndsmu’, dan dalam perspektif komunikasi, ini adalah pelanggaran besar mengingat Bapak adalah seorang presiden, pemimpin tertinggi republik,” ungkapnya.
Persoalan lain yang disoroti adalah kecenderungan pengambilan keputusan besar berdasarkan laporan bawahan yang dinilai dangkal dan kurang kajian ilmiah mendalam.
“Lalu Bapak memerintahkan bawahan Bapak untuk bikin program tanpa kajian yang jelas dari titah Bapak. Contohnya waktu Bapak lihat anak SD nulis kecil-kecil dan buku ajar tulisannya kecil-kecil. Saya bahas di sini, Pak. Bapak salah,” tegasnya.
Kebijakan terkait program strategis juga dinilai sering diamplifikasi secara berlebihan tanpa landasan data empiris yang kuat dari para ahli.
“Misalnya, ketika ada yang melapor bahwa MBG menaikkan IQ, Bapak tak harus amplifikasi itu secara tak proporsional. Menteri Bapak juga. Saya lampirkan sanggahan saya di sini, Pak, tentang itu,” ucapnya.
Akademisi tersebut menutup pandangannya dengan memberikan saran konstruktif agar kepala negara dapat meniru gaya komunikasi pendahulunya.
“Kalau gak mau baca script, tonton pidato Pak SBY, atau belajar mengendalikan emosi, dan berikan kami teladan nalar yang lurus,” pungkasnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok