Repelita [Jakarta] - Tindakan pembongkaran fasilitas gedung literasi di salah satu sekolah dasar negeri kawasan Blitar guna pembangunan fasilitas usaha ekonomi desa memicu perhatian luas.
Kebijakan alih fungsi bangunan pendidikan tersebut turut mengundang komentar bernada sindiran tajam dari sastrawan perempuan tanah air.
ADVERTISEMENT
Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya pada hari Rabu, penulis tersebut melontarkan kritik satir menanggapi lenyapnya ruang baca siswa.
“Mosok yo bersyukur Rek?,” tulis Kalis di akun Instagram pribadinya @kalis.mardiasih, Rabu (15/7/2026).
Eksekusi perobohan bangunan tempat menimba ilmu itu sejatinya telah dimulai sejak bulan April lalu meski mendapat penolakan keras dari dewan guru serta orang tua murid.
Kendati demikian, pihak pengelola sekolah tidak berdaya karena proyek tersebut mengantongi restu langsung dari pimpinan pemerintahan daerah setempat.
"Kami menolak, tapi kalau para pemimpin, bahkan kepala daerah sudah berikan izin, nggak ada yang bisa kami lakukan," kata seorang pengajar yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Hingga saat ini, pihak sekolah mengaku belum menerima kejelasan mengenai tempat pengganti bagi para siswa untuk mengakses buku bacaan.
"Kami juga bingung mau ditaruh di mana. Ruang yang kosong jelas tidak bisa digunakan. Saya sendiri juga bingung," terangnya.
Pemerintah daerah sebelumnya sempat berjanji menyediakan bangunan pengganti namun realisasi janji tersebut tak kunjung terwujud hingga proses pembangunan gerai ekonomi dimulai.
“Kayaknya beberapa waktu lalu sempat akan dibangun ruang pengganti. Tapi, buktinya sampai proses Kopdes Merah Putih mau dibangun, tidak ada kabar lagi,” imbuhnya.
Dampak dari alih fungsi bangunan ini juga dikeluhkan oleh para wali murid yang cemas terhadap kelangsungan kegiatan belajar anak-anak mereka.
"Saya orang kecil. Tidak tau masalah itu. Memang terkait KDMP, sempat orang datang ke sekolah untuk melihat, yang penting anak-anak tidak terganggu sekolahnya," ungkapnya.
Selain melenyapkan sarana literasi, pembongkaran tersebut turut menghilangkan ruang yang biasa dimanfaatkan murid untuk kegiatan pengembangan bakat di luar jam pelajaran.
"Biasanya ruang latihan dipakai anak-anak menari, juga sering mengaji, nanti kegiatan-kegiatan tersebut mau digelar di ruang mana ya," tambahnya (*)
Editor: 91224 R-ID Elok