Repelita [Jakarta] - Kenangan mendalam menyelimuti kepergian Bambang Setiawan berusia 60 tahun yang menjadi korban tewas akibat kerusuhan di kawasan Pejompongan Jakarta Pusat.
Sosok almarhum dikenang oleh pihak keluarga sebagai figur ayah yang ramah, hangat, serta mudah bergaul dengan berbagai kalangan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Putra korban bernama Wisnu mengungkapkan kepribadian sang ayah yang sangat dekat dengan teman-teman sejawat maupun generasi muda di sekitarnya.
“Sosok Bapak semasa hidup yang saya lihat tuh gimana ya? Dia humble banget sih, dia bergaul enggak dengan yang seumuran beliau saja, tapi bergaul dengan bahkan yang lebih muda, ngobrol, bercanda, bahkan ya beberapa temanku juga akrab sama beliau, bahkan teman-teman adikku itu akrab sama dia karena ya beliau seasik itu jadi seorang Bapak,” jelas Wisnu sembari menahan air mata.
Rasa kehilangan semakin dirasakan keluarga saat mendengar berbagai kesaksian positif dari masyarakat luas yang pernah dibantu oleh almarhum.
Kebaikan hati almarhum terungkap lewat pengakuan banyak orang yang baru diketahui oleh pihak keluarga setelah insiden tragis tersebut terjadi.
“Dan setelah beliau enggak ada, aku dapat banyak cerita dari teman-teman beliau atau orang yang enggak aku kenal sekalipun, kalau ya yang aku sadari ya banyak-banyak cerita yang bikin ‘Oh ternyata beliau sebaik itu gitu’,” kata dia.
Sifat ringan tangan almarhum dalam membantu sesama menjadi hal yang paling membekas di ingatan keluarga dan para kerabatnya.
Kepedulian terhadap orang lain selalu diutamakan oleh almarhum tanpa memikirkan keterbatasan kondisi finansial yang tengah dihadapi dirinya sendiri.
“Terus dia tuh enggak apa ya, enggak pernah nahan buat ngebantu orang, mau dia mikir ya dianya ada atau enggak tapi buat ngebantu orang selalu diutamakan,” tuturnya.
Perjuangan berat untuk menyambung hidup sempat dilalui almarhum selama tiga bulan berdagang cermin tanpa mendapatkan satu pun pembeli.
Kondisi ekonomi yang sulit memaksa almarhum menahan rasa lapar dan bertahan hidup dengan mengonsumsi makanan seadanya.
“Bahkan ada cerita yang bikin aku sedih, tiga bulan dia jualan itu enggak dapat (pembeli), enggak laku sama sekali, dia sampai harus nahan lapar, masak ubi kecil-kecil,” kata dia, air matanya pun spontan menetes.
Pihak keluarga mengaku terpukul karena almarhum tidak pernah menyusahkan anak-anaknya atau mengeluhkan kesulitan hidup yang dialami.
Almarhum bahkan harus mengonsumsi minuman kemasan demi mengganjal perut di tengah ketiadaan penghasilan harian.
“Sampai aku dapat cerita barusan, dia harus beli Okky Jelly Drink (untuk menahan lapar) yang biasa buat bercandaan kita-kita orang kayak ‘Lu kalau lapar ya lu minum Okky Jelly Drink saja’,” ungkap dia.
Keinginan untuk tidak membebani keluarga menjadi alasan utama almarhum merahasiakan masa-masa sulit tersebut dari anak-anaknya.
Ketabahan almarhum dalam menghadapi penderitaan hidup seorang diri membuat pihak keluarga merasa sangat kehilangan.
“Dia sampai segitu-gitunya dan dia enggak pernah cerita kayak gitu sama anaknya, cuma mungkin dia mikirnya, Bapakku tuh enggak mau menyusahkan anaknya. Eh pas meledak dapat cerita itu kayak segitunya loh gitu,” tutup Wisnu dengan linangan air mata.
Kisah perjuangan almarhum turut dikonfirmasi oleh Doli rekan dekatnya yang menyaksikan langsung masa-masa sulit saat berdagang.
Momen keprihatinan almarhum terekam saat membeli bahan makanan murah untuk menghemat pengeluaran harian akibat sepi pembeli.
“Tumben banget lu beli ubi kecil-kecil begini, buat apaan?” kata Doli.
“Buat makan siang Doli. Lagi sepi pembeli, jadi hemat makan ubi,” jawab Bambang, yang diperagakan oleh Doli.
Pembelian makanan siap saji dinilai terlalu mahal bagi kondisi keuangan almarhum sehingga ia memilih warung makan berbiaya hemat.
Pertimbangan efisiensi biaya membuat almarhum selalu memilih alternatif konsumsi terjangkau demi menjaga kelangsungan hidup.
Rangkaian peristiwa tragis berujung pada ditemukannya korban dalam kondisi kritis pasca-aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR RI.
Penyelidikan mendalam tengah dilakukan aparat kepolisian untuk membongkar dugaan aksi pengeroyokan massal di lokasi kejadian.
“Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan fakta-fakta hukum yang ada di lapangan yang kami peroleh,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin.
Proses pertolongan medis sempat terhambat lantaran situasi keamanan di tempat kejadian perkara belum sepenuhnya terkendali.
Tim medis kepolisian baru bisa mengevakuasi korban setelah area Pejompongan dinyatakan aman oleh aparat penegak hukum.
“Sehingga pada saat lokasi itu sudah diamankan, Bidokes Polda Metro Jaya mengevakuasi seseorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan,” kata Budi.
Upaya penanganan medis darurat di Rumah Sakit Mintohardjo tidak mampu menyelamatkan nyawa korban akibat luka fatal.
Jasad korban selanjutnya dibawa menuju Rumah Sakit Polri Kramat Jati guna menjalani proses identifikasi dan visum et repertum.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok