Berita, Nasional

Perdebatan Panas Lechumanan dan Denny Indrayana Ungkap Gibran Terbaik Versus Duitokrasi

Repelita.id

26 August 2026 21:02 WIB

Perdebatan Panas Lechumanan dan Denny Indrayana Ungkap Gibran Terbaik Versus Duitokrasi
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Diskusi publik bertajuk Rakyat Bersuara yang ditayangkan melalui stasiun televisi INews TV dan dipandu oleh Aiman Wicaksono memicu perdebatan sengit mengenai persoalan kepemimpinan nasional serta tatanan sistem demokrasi.

Wakil Ketua Peradi Bersatu bernama Lechumanan melontarkan pernyataan dengan nada tinggi untuk menyatakan bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka merupakan figur terbaik bila dibandingkan dengan sejumlah nama tokoh lain yang dianggap pantas memegang jabatan tersebut.

ADVERTISEMENT

Adu argumen itu terjadi ketika Lechumanan berhadapan langsung dengan seorang Pakar Hukum Tata Negara yakni Denny Indrayana di ruang diskusi.

Lechumanan secara tegas menyerukan kepada masyarakat agar tidak terlalu dini memperdebatkan masalah suksesi kepemimpinan dan menyarankan publik bersabar sampai penyelenggaraan Pemilu 2029 mendatang.

Persoalan pergantian kekuasaan dinilai lebih baik diserahkan saja pada waktunya sambil menantang pihak lain untuk menunjukkan siapa tokoh yang kualitasnya berada di atas Gibran.

Ya udah tunggu sampai 2029 lah mas. Udah gitu aja. Sederhana kan?

Pandangan serupa kembali ditekankan karena sampai detik ini dirinya merasa belum menemukan sosok alternatif yang layak disandingkan atau dipandang lebih unggul dari Gibran.

Tunggu aja sampai 2029. Orang gak ada calonnya kok. Kalau ada calonnya ya silahkan gitu loh.

Bahkan ia melontarkan kalimat candaan bernada tantangan kepada panelis lain untuk menggantikan posisi tersebut jika memang merasa mampu memimpin.

Kalau gak ada calonnya kita tunggu sampai 2029. Kecuali Bang Roy mau gantikan.

Suasana semakin memanas tatkala Lechumanan mengarahkan pertanyaan secara langsung kepada Denny Indrayana untuk mencari tahu ada atau tidaknya figur yang dinilai lebih unggul daripada Gibran saat ini.

Emang ada yang lebih bagus dari Gibran? Saya tanya. Ada yang lebih bagus? Saya tanya.

Pernyataan bernada klaim tersebut ditegaskan kembali olehnya dengan intonasi suara yang sangat lantang di hadapan peserta diskusi lainnya.

Gibran paling bagus! Biar Bang Denny tahu, Gibran paling bagus Ya, ini saya yang ngomong. Ya, jelas kan, Bang Denny?

Mendengar pernyataan bernada tinggi itu, Denny Indrayana memberikan tanggapan yang jauh lebih tenang serta mengalihkan fokus pembahasan dari sekadar figur personal menuju substansi sistem demokrasi.

Denny berpandangan bahwa perdebatan publik seharusnya tidak boleh berhenti pada pertanyaan dangkal mengenai siapa tokoh yang layak dicap paling bagus.

Hal yang jauh lebih esensial untuk diperbincangkan adalah bagaimana mekanisme sistem politik mampu memberikan jaminan kesempatan bagi setiap individu berdasarkan kapasitas murni serta integritas diri.

Justru karena tidak bicara calon, kita bicara sistem. Silakan dijawab, ada nggak yang lebih bagus? Ya kan Gibran itu paling bagus?

Kritik tajam turut dilontarkan berkaitan dengan dugaan pengrusakan aturan kontestasi politik yang berdampak buruk terhadap runtuhnya sistem meritokrasi yang sehat.

Penerapan meritokrasi yang ideal seharusnya menempatkan aspek integritas moral sebagai prioritas utama sebelum menilai kapasitas intelektual maupun tingkat elektoral seseorang.

Meritokrasi itu mengedepankan kapasitas integritas moral yang pertama. Yang kedua adalah kapasitas intelektual. Baru sebenarnya yang ketiga itu elektoral.

Situasi politik tanah air saat ini dinilai telah mengalami degradasi akibat dominasi kekuatan finansial dalam menentukan hasil pemenangan kontestasi elektoral.

Kita ini sekarang berada di level ini. Elektoral yang diutak-atik lewat survei, lewat kampanye, lewat uang. Pemenangan kita itu oleh uang.

Praktek kecurangan tersebut dianalogikan sebagai bentuk pembajakan terhadap nilai-nilai demokrasi murni yang bergeser menjadi sistem kekuasaan uang atau duitokrasi.

Demokrasi kita dibajak oleh duitokrasi. Dan kita sudah tahu bagaimana kalau ingin menang harus dengan uang, dan harus dengan cara-cara curang.

Upaya perlawanan terhadap pembajakan demokrasi itu harus segera dilakukan demi mengembalikan hak kedaulatan penuh ke tangan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.

Yang harus kita lawan. Kita ingin mengembalikan rakyat bersuara, semua pemilih.

Semua elemen masyarakat diajak untuk memulihkan marwah pemilu agar kembali berjalan sebagai pesta demokrasi rakyat murni bukan dikendalikan oleh kekuatan modal uang.

Mari kita kembalikan pemilu kita itu sebagai demokrasi. Daulat rakyat, bukan duitokrasi, daulat uang.

Aspek integritas moral serta kapasitas intelektual ditegaskan kembali harus menduduki posisi sentral melebihi hasil survei elektabilitas yang kerap dimanipulasi oleh kepentingan tertentu.

Itu artinya apa? Artinya kembalikan meritokrasi sebagai ukuran pemimpin kita. Meritokrasi itu paling atas integritas moral, nomor dua kapasitas intelektual, elektoral itu bisa diotak-atik oleh para buzzer dan para surveyor itu.

Masyarakat juga diingatkan agar tidak bersikap pasif dengan menunggu hingga mendekati tahun 2029 untuk mulai melakukan pembenahan terhadap carut-marut sistem politik yang ada.

Langkah perbaikan sistem wajib dimulai sejak dini guna menghindari jebakan praktik politik uang serta berbagai kecurangan terstruktur dalam pemilu.

Itu yang harus kita camkan. Jadi ke depan, jangan nunggu sampai pemilu 2029, kita di 2024 tidak ingin memilih calon, dia jadi calon.

Perlawanan konkret harus segera diwujudkan agar publik tidak kembali terjebak dalam lingkaran setan politik kotor di masa depan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung