Repelita Washington - Di tengah dentuman perang yang belum mereda di Teluk, badai lain justru berembus dari dalam tubuh militer Amerika Serikat.
Saat puluhan ribu pasukan masih berjaga di garis depan, keputusan mengejutkan datang dari Washington berupa perombakan besar-besaran di pucuk pimpinan Angkatan Darat.
ADVERTISEMENT
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, secara tiba-tiba meminta Kepala Staf Angkatan Darat, Randy George, untuk mundur dan pensiun seketika.
Langkah itu bukan sekadar pergantian biasa karena terjadi saat perang melawan Iran baru memasuki hari ke-33, ketika stabilitas komando justru menjadi kebutuhan paling krusial.
Di saat yang sama, bayang-bayang pemecatan juga mendekati Menteri Angkatan Darat, Dan Driscoll.
Sumber di Gedung Putih menyatakan posisi Driscoll sedang dipertimbangkan untuk diganti, menandai potensi perombakan militer terbesar AS dalam beberapa dekade terakhir pada masa perang.
Kontrasnya terasa begitu tajam karena di satu sisi Presiden Donald Trump dan Hegseth berulang kali memuji kinerja militer dalam operasi melawan Iran.
Serangan udara dan laut diklaim berhasil melumpuhkan kekuatan strategis Teheran, namun di sisi lain pucuk pimpinan justru digoncangkan secara tiba-tiba yang berpotensi mengganggu rantai komando.
Di kawasan Teluk lebih dari 50.000 tentara AS kini bersiaga, didukung kapal perang dan kapal selam.
Unit elit seperti Divisi Lintas Udara ke-82 terus berdatangan, menandakan kemungkinan eskalasi operasi darat.
Namun di balik kesiapan tempur itu, arah kebijakan justru mengendap di ruang-ruang pengambil keputusan yang tidak jelas.
Pemecatan George menambah daftar panjang pembersihan pejabat tinggi militer sejak Hegseth menjabat sebagai menteri pertahanan.
Sejumlah perwira senior, termasuk petinggi Angkatan Laut dan pejabat tinggi Angkatan Udara, telah lebih dulu disingkirkan dari jabatan mereka.
Banyak di antara mereka yang disebut memiliki kedekatan dengan pemerintahan sebelumnya atau dianggap tidak sejalan dengan agenda politik saat ini.
Langkah agresif ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan internal militer Amerika Serikat.
Sejumlah pejabat menilai bahwa budaya profesional yang selama ini dijaga bisa tergeser oleh loyalitas politik semata.
Suara-suara kritis berisiko dibungkam, digantikan oleh kepatuhan tanpa ruang perdebatan yang sehat.
Di tengah perang yang belum memiliki garis akhir yang jelas, keguncangan ini terasa semakin berat bagi para prajurit di lapangan.
Hingga kini belum ada kejelasan strategi jangka panjang apakah perang akan dihentikan, diperluas, atau sekadar ditekan dalam tempo tertentu.
Pernyataan yang berubah-ubah dari Gedung Putih hanya menambah kabut di medan geopolitik yang sudah rumit.
Sementara itu harga energi global bergejolak, Selat Hormuz masih menjadi titik rawan, dan negara-negara sekutu mulai gelisah menunggu arah kebijakan Washington.
Perang pada akhirnya bukan hanya soal peluru dan strategi militer, tetapi juga tentang stabilitas kebijakan di tingkat politik tertinggi.
Dan ketika kursi komando ikut bergetar, yang dipertaruhkan bukan sekadar kemenangan melainkan arah sebuah negara di tengah konflik yang bisa mengubah peta dunia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok