Repelita [Jakarta] - Penayangan serial televisi asal Korea Selatan berjudul Agent Kim Reactivated mendadak memicu polemik luas di kalangan penikmat hiburan internasional setelah mengandalkan teknologi kecerdasan buatan untuk penggarapan sekuens laga.
Adegan pertarungan berdurasi tiga menit yang melibatkan aktor utama dikerjakan sepenuhnya tanpa melalui proses pengambilan gambar di dunia nyata.
ADVERTISEMENT
Rumah produksi memilih memanfaatkan sistem digital otomatis tersebut guna menekan anggaran belanja serta memangkas kebutuhan pembuatan latar tempat berskala masif di luar negeri.
Kendati dinilai sebagai pencapaian efisiensi yang luar biasa, keputusan kreatif itu justru mendatangkan gelombang kritik tajam dari para penonton setia.
Banyak pemerhati film merasa cemas bahwa ketergantungan berlebihan pada sistem otomatisasi berpotensi mereduksi nilai seni serta kedalaman emosi yang biasa dihadirkan oleh tenaga manusia.
Diskusi hangat di berbagai ruang publik maya menyoroti ancaman nyata hilangnya kesempatan kerja bagi para animator, tenaga efek visual, serta kru produksi profesional.
Sebagian masyarakat berpendapat bahwa sentuhan emosional dan kreativitas otentik dari para pekerja seni tidak akan pernah bisa digantikan sepenuhnya oleh kecanggihan mesin digital.
Meskipun teknologi modern diakui mampu meminimalisasi risiko kecelakaan kerja bagi para pemain utama, publik tetap mendesak agar batas etika pemanfaatannya harus dijaga secara ketat.
Eksistensi sumber daya manusia di dalam ekosistem perfilman dinilai wajib dilindungi agar kemajuan inovasi tidak berujung pada peminggiran peran kreator lokal.(*).
Editor: 91224 R-ID Elok