Repelita Bagdad - Keberadaan sepasang instalasi militer terselubung milik angkatan bersenjata tel aviv di kawasan gurun barat irak akhirnya terkuak menyusul sebuah insiden fatal yang merenggut nyawa warga sipil.
Seorang pengembara ternak paruh baya kehilangan nyawanya secara tragis setelah secara tidak sengaja melintasi batas pengamanan perimeter pos pemantauan zionis yang memiliki tingkat proteksi sangat ketat tersebut.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan investigasi media internasional pada senin kemarin korban dikejar serta dihujani peluru secara berondong oleh armada helikopter tanpa identitas saat mengendarai kendaraan roda empat miliknya di tengah hamparan tandus.
Pihak kerabat meyakini tindakan eliminasi fisik tersebut sengaja dilakukan oleh operator militer asing demi mengubur rapat informasi mengenai pergerakan taktis pasukan tel aviv di wilayah perbatasan terpencil itu.
Sebelum sambungan seluler terputus total korban sempat menghubungi pusat komando pertahanan teritorial setempat guna melaporkan adanya mobilisasi pasukan infanteri asing beserta barisan tenda logistik di sebuah landasan udara darurat.
Proses pencarian mandiri oleh pihak keluarga berlangsung selama dua hari sebelum akhirnya mendapatkan titik terang dari kesaksian komunitas komunal setempat yang mengonfirmasi adanya serangan udara mematikan tersebut.
"Kami diberi tahu ada truk pikap yang hangus terbakar di sana, tetapi tidak ada warga yang berani mendekat," kenang sepupu korban, Amir al-Shammari dengan nada bergetar.
"Ketika kami sampai di lokasi, kami menemukan mobil dan jenazah Awad sudah hangus terbakar."
Konflik horizontal kian merembet luas lantaran sehari pasca menerima laporan kedaruratan dari warga sipil komando operasi gabungan setempat langsung mengerahkan unit pengintai bersenjata ke lokasi kejadian.
Namun armada patroli tersebut justru langsung disambut oleh hantaman proyektil berat dari udara yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di pihak militer serta hancurnya sejumlah kendaraan taktis.
Ironisnya lingkaran elit birokrasi pertahanan di pusat pemerintahan terkesan berupaya meredam urgensi pengusutan kasus ini dengan cara mengeliminasi pembahasan detail insiden dalam forum rapat strategis nasional.
Secara diplomatis otoritas pertahanan hanya merilis nota protes normatif ke lembaga internasional atas pelanggaran wilayah oleh aktor eksternal tanpa berani menyebutkan identitas pelaku secara benderang.
Kendati demikian setelah melalui proses verifikasi silang dengan kekuatan militer sekutu barat pihak intelijen internal menyimpulkan bahwa pelaku agresi udara tersebut merupakan armada tempur zionis.
Eksistensi pos komando terdepan ini disinyalir telah dipersiapkan sejak beberapa tahun lalu sebagai pangkalan logistik guna memperpendek radius radius serang jet tempur saat meletusnya konflik terbuka melawan iran.
Terbongkarnya skandal ini sekaligus memicu mosi tidak percaya dari parlemen lokal yang mencurigai adanya pembiaran sistematis oleh kekuatan global sekutu utama pemerintah dalam melindung aktivitas zionis.
"Ini menunjukkan pengabaian terang-terangan terhadap kedaulatan Irak, pemerintah, dan pasukannya, serta terhadap martabat rakyat kita!" ketus Waad al-Kadu, anggota parlemen Irak yang berang usai menghadiri pengarahan parlemen rahasia terkait pangkalan tersebut.
Persoalan kian pelik setelah bocornya informasi mengenai tekanan diplomatik global yang mengharuskan otoritas pertahanan setempat menonaktifkan seluruh sistem deteksi ruang udara nasional secara berkala.
Kebijakan sepihak tersebut membuat wilayah pertahanan udara domestik menjadi lumpuh total dan memiliki ketergantungan mutlak pada pasokan data intelijen asing hanya untuk memantau lalu lintas pesawat luar.
"Sikap para pemimpin keamanan kita sangat memalukan," semprot Waad al-Kadu lagi.
Indikasi pembiaran ini diperkuat oleh pengakuan terbuka dari pimpinan pasukan eufrat barat yang menyatakan jajaran intelijen lapangan sejatinya telah mendeteksi pergerakan infiltrasi tersebut sejak sebulan lalu.
"Namun sampai detik ini, pemerintah pusat di Baghdad memilih bungkam," ungkapnya pahit.
Hingga saat ini jajaran eksekutif masih memilih untuk menutup rapat informasi ini demi mengantisipasi gejolak politik dalam negeri mengingat undang-undang domestik melarang keras segala bentuk relasi dengan pihak tel aviv.
Saat dimintai keterangan resmi otoritas kehumasan militer hanya memberikan pernyataan diplomatis bahwa pihaknya tidak memegang catatan koordinat spasial mengenai keberadaan fasilitas militer asing di wilayahnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok