Berita, Nasional

Pengamat: Sikap JK Ungkap Peran ke Jokowi Bentuk Kekecewaan karena Merasa Tak Dihargai

Repelita.id

21 April 2026 23:26 WIB

Pengamat: Sikap JK Ungkap Peran ke Jokowi Bentuk Kekecewaan karena Merasa Tak Dihargai
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Sikap Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, yang mengungkap peranannya terhadap suksesi Joko Widodo sebagai Presiden ke-7 dinilai sebagai sentilan yang bersifat pribadi.

Pengamat Citra Institute, Efriza, menilai bahwa sikap JK yang secara terbuka menunjukkan kemarahan hingga membuka percakapan pribadi di WhatsApp dapat dimaknai sebagai kekecewaan yang mendalam.

ADVERTISEMENT

"Karena merasa tak dihargai telah berperan dan punya kontribusi mengantarkan Jokowi ke kursi kekuasaan," ujar Efriza kepada RMOL di Jakarta pada Selasa, 21 April 2026.

Menurutnya, sangat wajar apabila JK menunjukkan reaksi kemarahan di ruang publik.

Sebab, belakangan ini muncul berbagai narasi yang menyerang dirinya, termasuk tuduhan mendanai kasus ijazah Jokowi.

"Dan terakhir, JK dianggap melakukan penistaan agama dalam ceramahnya di UGM. Akumulasi ini memang menyerang JK disinyalir karena sikap JK yang keras dalam kritik untuk membela kepentingan rakyat," tuturnya.

Di samping itu, Magister Ilmu Politik Universitas Nasional itu mendapati fakta bahwa ranah pribadi JK ikut diusik oleh orang-orang atau kelompok buzzer Jokowi yang kerap disebut Ternak Mulyono (Termul).

Efriza memperkirakan bahwa JK merasa diabaikan dalam dinamika politik mutakhir.

Ia juga menilai bahwa JK terkesan sedang mencari popularitas di publik dengan mengungkap peranannya terhadap Jokowi.

"Kesannya, JK adalah elite 'kemarin sore' yang baru mau eksis dengan Pansos. Padahal sebaliknya, jelas-jelas tanpa JK maka Jokowi tidak akan pernah diperhitungkan sebagai calon presiden, Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden meragukan kualitas dan akseptabilitas Jokowi di kancah nasional," beber dia.

"Artinya, diterimanya Jokowi sebagai capres itu kenyataan sejarah. Tanpa JK, maka Jokowi hanya politisi daerah yang tidak akan masuk dalam lingkaran kekuasaan level nasional. Kenyataan sejarah ini adalah beban sejarah secara pribadi Jokowi," demikian Efriza menambahkan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung