Berita, Nasional

Pengamat Sebut PSI Gagal Manfaatkan Efek Jokowi Karena Belum Punya Basis Wilayah

Repelita.id

26 August 2026 21:52 WIB

Pengamat Sebut PSI Gagal Manfaatkan Efek Jokowi Karena Belum Punya Basis Wilayah
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pergerakan angka keterpilihan Partai Solidaritas Indonesia dalam berbagai survei nasional terus diamati oleh kalangan pengamat politik tanah air.

Kendati menunjukkan adanya dinamika pergerakan suara, perolehan tersebut dipandang belum mampu mengangkat posisi partai tersebut sejajar dengan kekuatan politik mapan seperti PDI Perjuangan.

ADVERTISEMENT

Pengamat Psikologi Politik Universitas Negeri Makassar yakni Muhammad Rhesa menilai strategi mengandalkan ketokohan Joko Widodo belum memberikan dampak elektoral yang masif.

Pengaruh figur sentral tersebut dianalisis mengalami penurunan efektivitas seiring dengan berakhirnya masa jabatan publik yang pernah diembannya.

Efeknya belum signifikan, kita bisa identifikasi dari pola yang dilakukan PSI. Mengandalkan Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas artinya menanti efek ekor jasnya namun Jokowi sebagai figur sentral sudah meredup pasca tidak lagi memiliki jabatan.

Sebagai partai pendatang baru, langkah strategis yang lebih matang mutlak diperlukan guna menciptakan nilai pembeda di tengah persaingan ketat antarpartai.

Ketiadaan identitas ideologis yang mengakar kuat serta keunggulan kompetitif yang jelas membuat partai ini masih kesulitan merebut simpati luas dari masyarakat.

Selain mengandalkan variabel ketokohan Jokowi, yang dibutuhkan sebagai partai yang relatif baru adalah keunggulan kompetitif dibanding partai lain.

Sejauh ini sebagai partai yang relatif baru, PSI belum punya daya tarik yang kuat baik secara brand maupun posisi keberpihakan secara sikap dan ideologi bagi masyarakat.

Citra institusi yang selama ini diidentikkan dengan slogan partai super terbuka dinilai kontradiktif dengan realitas latar belakang kepemimpinan utamanya.

Dari segi brand atau citra yang dibangun dengan jargon Partai super terbuka, kondisi itu justru berkebalikan dengan kondisi real ketika publik berusaha memvalidasi menurut pengamatannya.

Kepemimpinan pucuk pimpinan yang berasal dari kalangan elite serta keluarga mantan presiden dipandang berlawanan dengan narasi keterbukaan yang kerap didengungkan.

Super terbuka namun latar belakang Ketua Umumnya ekslusif, merupakan kalangan super elit, anak mantan presiden.

Absennya keberpihakan sikap secara transparan kepada publik berakibat pada minimnya perolehan dukungan simpati dari berbagai elemen lapisan masyarakat.

Proses keterbukaan yang dijargonkan tidak hidup secara nyata ke berbagai lapisan masyarakat.

Kemudian, keberpihakan sikapnya bagi masyarakat juga tidak pernah diutarakan secara terbuka sehingga jalan untuk memperoleh simpati masyarakat juga minim.

Kendala struktural lain yang masih membelenggu adalah ketiadaan basis teritorial pendukung setia layaknya kantong suara yang dimiliki oleh partai besar lainnya.

PSI juga belum memiliki basis kewilayahan layaknya PDIP di Jateng dan PKB di Jatim.

Berbagai kontroversi yang melekat pada figur sentral di belakang partai turut menyumbang terciptanya keraguan psikologis di tengah ruang publik.

Situasi ketidakpastian tersebut secara naluriah mendorong masyarakat untuk mengambil jarak serta enggan memberikan atensi berlebih terhadap partai tersebut.

Saya kira pengaruh langsungnya tidak ada, tetapi karena gerakan partainya mengandalkan figur, sementara figurnya bagi sebagian masyarakat berpolemik terkait ijazahnya, membuat daya tariknya lemah.

Situasi mengenai ijazah Jokowi dan Wapres Gibran membuat masyarakat berada dalam kondisi uncertainty condition.

Atau kondisi tidak pasti dan naluri masyarakat sebagai manusia relatif menghindari kondisi tidak pasti, itu artinya menghindar dari menaruh perhatian berlebih bagi partai ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung