Berita, Politik

Pengamat Nilai Prabowo Berpotensi Lakukan Penyingkiran Politik Terhadap Gibran Berkaca Dari Kasus Filipina

Repelita.id

01 September 2026 23:20 WIB

Pengamat Nilai Prabowo Berpotensi Lakukan Penyingkiran Politik Terhadap Gibran Berkaca Dari Kasus Filipina
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Potensi terjadinya pergesekan dalam lingkaran kekuasaan tertinggi di tanah air kembali menjadi sorotan pengamat politik senior.

Analisis mengenai kemungkinan adanya langkah peminggiran kekuasaan yang berkaca pada dinamika politik di negara tetangga diungkapkan oleh Syahganda Nainggolan.

ADVERTISEMENT

Potensi langkah politik tersebut disampaikannya melalui saluran YouTube Forum Keadilan TV pada Selasa, (1/9).

Kalau misalkan kita lihat misalkan antara Sarah Duterte di Filipina ya kan wakil presiden dengan Bongbong Marcos misalnya seperti itu.

Itu kan penyingkirannya kan penyingkiran politik.

Nah, itu juga bisa dilakukan oleh Pak Presiden Prabowo untuk semakin melakukan penyingkiran politik

Situasi hubungan antara kepala negara dan wakilnya dinilai masyarakat kerap menunjukkan ketidakpastian yang memancing tanda tanya publik.

Berbagai gestur seperti absennya sang wakil dalam agenda perjalanan penting atau minimnya pendelegasian wewenang kepemimpinan rapat menjadi indikator tersendiri.

Itu apakah itu yang bener atau yang bener hidup Jokowi, atau pada saat hari ulang tahun kemerdekaan duduk diapit bapak dan anak

Rekam jejak hubungan politik tersebut turut dikaitkan dengan momen ketika pimpinan partai Gerindra tersebut meneriakkan dukungan terbuka bagi pendahulunya.

Kita diberi kepercayaan oleh rakyat bersama kawan-kawan kita dari Koalisi Indonesia Maju (KIM), dan saya katakan di sini bahwa kita berhasil mendapat kepercayaan rakyat karena dukungan teman-teman Koalisi Indonesia Maju semuanya

Dan saya katakan di sini, kita berhasil karena kita didukung oleh Presiden ke-7 (Jokowi).

Tepuk tangannya kurang semangat!

Semangat lagi.

Hidup Jokowi!

Peristiwa tersebut merujuk pada perayaan ulang tahun partai pendukung yang dilangsungkan di kawasan Sentul, Bogor, pada Sabtu, (15/2/2025).

Sementara itu, kedekatan posisi duduk di antara para tokoh penting terlihat jelas dalam upacara peringatan kemerdekaan di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, (17/8/2026).

Eksistensi relasi politik yang kompleks ini terus memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pengamat mengenai arah kekuasaan nasional ke depan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung