Berita, Timur Tengah

Pengamat: Isu Nuklir Hanya Kedok, Trump Kehabisan Alasan Lawan Iran

Repelita.id

05 May 2026 15:17 WIB

Pengamat: Isu Nuklir Hanya Kedok, Trump Kehabisan Alasan Lawan Iran
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pengamat Timur Tengah yang cukup disegani, Dina Sulaeman, melontarkan analisis tajam bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat ini sudah kehabisan alasan yang masuk akal untuk tetap mempertahankan konflik berkepanjangan dengan Republik Islam Iran.

Dalam perkembangan terbaru yang cukup mengejutkan, Trump secara tegas menolak proposal perdamaian yang terdiri dari 14 poin dengan alasan yang menurut Dina sangat mengada-ada, yaitu bahwa Teheran belum menerima hukuman yang setimpal atas berbagai kejahatan yang dilakukannya selama 47 tahun terakhir.

ADVERTISEMENT

Dina kemudian menyimpulkan dengan keyakinan tinggi bahwa isu pengembangan senjata nuklir yang selama ini digembar-gemborkan oleh Washington hanyalah sebuah kedok belaka agar dunia internasional bersedia memberikan dukungan penuh kepada kebijakan agresif Amerika Serikat.

"Loh tadi katanya nuklir, sekarang kenapa tiba-tiba bicara perbuatan Iran selama 47 tahun terakhir," kata Dina dengan nada sinis dalam wawancara eksklusif bersama Tribunnews yang berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026.

Ia kemudian menyinggung hasil survei dari sejumlah lembaga riset terkemuka yang menyatakan bahwa sekitar 83 persen masyarakat Indonesia memandang alasan yang dikemukakan Trump untuk memerangi Iran adalah tidak sah dan tidak dapat dibenarkan secara moral maupun hukum internasional.

"Publik Indonesia gak ada yang percaya kalau ini (soal) nuklir," tambah Dina sambil menegaskan bahwa rakyat Indonesia sudah sangat cerdas dalam membaca situasi geopolitik global yang sebenarnya.

Terkait dengan nasib konflik yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, Dina berpandangan bahwa bola panas saat ini sepenuhnya berada di tangan pemerintah Amerika Serikat karena Iran sudah memberikan tuntutan yang sangat jelas kepada Washington melalui proposal terbaru yang mereka ajukan.

"Kalau Iran justru bisa tetap di atas angin dengan cara menunggu, sementara ini yang tantrum ini AS Trump yang tantrum," pungkas Dina dengan istilah tantrum yang menggambarkan sikap kekanak-kanakan dan tidak dewasa dari presiden Amerika Serikat tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung