Repelita Jakarta - Kabar duka menyelimuti dunia penegakan hukum tanah air pasca berpulangnya sang pembela keadilan bagi keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.
ADVERTISEMENT
Tokoh hukum Kamaruddin Simanjuntak dilaporkan tutup usia pada hari Senin, 19 Oktober 2026 dini hari setelah melewati masa perawatan intensif di rumah sakit.
Sebelumnya, kondisi fisik figur hukum yang dikenal sangat berani dalam membongkar keterlibatan mantan pejabat tinggi kepolisian Ferdy Sambo ini sempat memperlihatkan tanda pemulihan.
Pihak pendamping hidup almarhum, Joanita Meroline Wenji, mengonfirmasi bahwa tidak ada wasiat ataupun pesan khusus yang ditinggalkan oleh sang suami menjelang detik-detik terakhirnya.
Mendiang praktisi hukum ini diketahui hanya mengutarakan keinginan yang sangat sederhana untuk didekatkan dengan anak-anaknya.
“Justru enggak ada pesan, jadi kita enggak bisa prediksi. Cuma pesannya paling dia kayak anak-anak kalau datang, ‘Sini peluk,’” kata Joanita di Rumah Duka RS Ukrida, Jakarta Barat, Senin.
Sepanjang menjalani masa penanganan medis, Kamaruddin Simanjuntak juga kerap meminta sang istri untuk senantiasa menemani di sisi ranjang perawatannya.
Di kala kekuatan fisiknya mulai melemah akibat beban penyakit, sang pengacara terkadang sempat mengutarakan rasa letih yang dirasakannya.
Kendati demikian, pasangan suami istri ini terus berupaya keras untuk memberikan motivasi satu sama lain agar tetap tabah menghadapi masa-masa kritis.
Almarhum juga berulang kali menyampaikan kerinduannya agar bisa segera menyelesaikan masa perawatan medis dan pulang ke kediaman pribadi.
“Kalau di rumah sakit, ‘Saya mau pulang,’ kayak gitu. Cuma bilangnya begitu aja sih,” kata Joanita.
Joanita menguraikan bahwa kondisi klinis suaminya sebenarnya terlihat cukup bugar pada waktu awal masuk ke pusat pelayanan kesehatan.
Pada momen tersebut, sang suami bahkan terdeteksi tidak memperlihatkan adanya keluhan rasa perih yang teramat sangat pada bagian badannya.
Kamaruddin pertama kali dilarikan ke ruang instalasi gawat darurat oleh pihak keluarga pada hari Sabtu, 17 Oktober 2026.
Menurut penuturan pihak keluarga, penampakan fisik luar dari almarhum sama sekali tidak memberikan indikasi awal yang mencurigakan bahwa kondisinya akan merosot tajam.
“Dia kadang kalau ditanya, ‘Sakit enggak?’ ‘Enggak,’ gitu dia. Jadi kita enggak menyangka, mukanya segar,” ujarnya.
Memasuki hari Minggu dini hari, barulah pasien dipindahkan secara berkala menuju ke area ruang perawatan inap rumah sakit.
Pada ruangan tersebut, Joanita mulai mendapati adanya perubahan pada pola suara pernapasan suaminya yang terdengar berat menyerupai mengorok.
Pendamping pasien sempat memberikan imbauan agar almarhum mencoba mengeluarkan dahak, namun sang suami mengaku sudah tidak memiliki kekuatan.
Melihat indikasi tersebut, pihak keluarga langsung bergegas memanggil tim perawat guna melakukan pengecekan saturasi oksigen di dalam tubuh.
Berdasarkan alat pemantau medis, kadar saturasi penyerapan udara di dalam tubuh pasien dilaporkan terus merosot secara drastis dari waktu ke waktu.
Meskipun jajaran dokter serta tenaga kesehatan sudah dikerahkan maksimal memberikan tindakan pompa jantung, detak nadi pasien akhirnya dipastikan berhenti.
“Mulai dari situ sudah turun, turun, turun. Barulah dipompa sampai jam 02.47, dia sudah enggak ada,” katanya.
Sebelum dinyatakan meninggal dunia, tokoh pejuang keadilan ini diketahui sudah lama mengidap komplikasi penyakit kronis dalam kurun waktu beberapa tahun.
Kamaruddin Simanjuntak dilaporkan telah menjalani prosedur tindakan cuci darah secara berkala selama kisaran waktu dua tahun terakhir.
Ketahanan fisik dari sang praktisi hukum juga kerap dilaporkan drop hingga berulang kali menjalani opname terhitung sejak Februari 2026.
Faktor kelelahan yang luar biasa akibat tingginya intensitas kerja sebagai penasihat hukum diduga menjadi salah satu pemicu utama merosotnya daya tahan tubuh almarhum.
Kamaruddin dikenal sebagai sosok workaholic yang kerap mengabaikan waktu libur akhir pekan demi bisa memberikan pendampingan hukum yang maksimal bagi para kliennya.
"Sudah dua tahun mulai ada cuci darah. Karena terlalu lelah, hampir enggak istirahat dia. Kalau membela klien itu benar-benar hari Minggu pun dia kerja," ujar Joanita, Senin (19/10/2026).(*)
Editor: 91224 R-ID Elok