Repelita [Jakarta] - Pakar Ekonomi Berly Martawardaya kembali menanggapi kontroversi karya ilmiah seputar Program Makan Bergizi Gratis yang dikaitkan dengan pencalonan Penghargaan Nobel Perdamaian 2026.
Isu ini menyita perhatian publik lantaran menyertakan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu penyusun karya tulisan tersebut.
ADVERTISEMENT
Melalui saluran akun X miliknya https://x.com/berlymartawardaya
, Berly menjelaskan telah ada penyampaian klarifikasi resmi dari sosok pemrakarsa pencantuman nama Kepala Negara dalam naskah itu.
“Sudah ada klarifikasi dari orang yg cantumkan nama Presiden Prabowo sbg penulis paper ttg MBG dan menominasikan ke seleksi Nobel Perdamaian,” tulis Berly.
Ia membeberkan dua kesimpulan utama berdasarkan pernyataan klarifikasi yang telah disampaikan oleh pihak terkait.
Poin pertama menegaskan bahwa tidak ada persetujuan resmi maupun izin yang diberikan Presiden Prabowo atas penggunaan namanya.
Sementara poin kedua memastikan kementerian serta lembaga pendidikan tinggi kepemerintahan tidak pernah dilibatkan dalam penyusunan dokumen tersebut.
“Point pentingnya (1) tidak pernah izin dan/atau dapat persetujuan Presiden Indonesia dan Presiden Prancis buat cantumkan nama. (2) Kemdagri dan IPDN tidak terlibat,” tuturnya.
Sebelumnya, dokumen sepanjang 69 halaman bertajuk Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia's Economic Growth memicu kehebohan warga netizen.
Unggahan karya akademik pada platform SSRN tersebut menyajikan sepuluh susunan penulis dengan nama Presiden Prabowo ditaruh pada baris pertama.
Penyebaran informasi ini merebak usai diunggah oleh platform media sosial via akun https://x.com/TxtdariiUGM
.
“Nemu paper salah satu authornya @prabowo, papernya sebagai ajuan Program MBG untuk diajukan dalam Nobel Perdamaian 2026,” tulis akun tersebut.
Cuitan itu melayangkan sorotan atas indikasi penggunaan alat pemproses teks otomatis dalam merancang draf tulisan ilmiah hingga tampilan visual naskah.
Hasil analisis perangkat pelacak konten kecerdasan buatan bahkan menunjukkan indikasi kemiripan struktur generatif hingga mencapai tingkatan 93 persen.
Adapun jajaran nama akademisi yang terdaftar dalam naskah tersebut mencakup Prof. Dr. Dian Damayanti, Ashar Sunarso, Norhidayah Azman, Iwan Iwan, Prof. Dr. Ir. Gimbal Doloksaribu, Prof. Dr. Cicih Ratnasih, Mansuri, serta Dr. Sugiyanto Saleh. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok