Berita, Nasional

Pemerhati Politik Sebut Menggulingkan Prabowo-Gibran Sah-Sah Saja Lewat Mekanisme Konstitusi, Seruan Tangkap dan Adili Jokowi Makin Menguat

Repelita.id

19 April 2026 11:19 WIB

Pemerhati Politik Sebut Menggulingkan Prabowo-Gibran Sah-Sah Saja Lewat Mekanisme Konstitusi, Seruan Tangkap dan Adili Jokowi Makin Menguat
Foto: Istimewa

Repelita Bandung - Pemerhati politik dan kebangsaan, M Rizal Fadillah, menyatakan bahwa upaya menggulingkan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka adalah sah-sah saja menurut aturan konstitusi yang berlaku.

UUD 1945 memberi ruang bagi proses penggulingan tersebut melalui mekanisme DPR, MK, dan terakhir MPR, namun semua itu memerlukan tekanan masif berupa gerakan rakyat, tulis Rizal dalam tulisannya pada Sabtu, 18 April 2026.

ADVERTISEMENT

Ia menilai bahwa sejak awal keterpilihan pasangan Prabowo-Gibran bersifat by design sehingga sorotan tajam tertuju pada Gibran sebagai putra Jokowi.

Berbagai kelemahan diungkit mulai dari permainan MK, KPU, karakter kekanak-kanakan, narkoba, hingga rekayasa kerja Presiden, sehingga persyaratan untuk penggulingan dinilai sudah terpenuhi.

Namun Prabowo justru melindungi Gibran, mungkin sebagai bentuk pengabdian dan balas jasa kepada Jokowi yang bagi Prabowo masih hidup dan mewujud sebagai dewa pembimbing.

Disinilah cacat Prabowo mulai terlihat karena ia tidak bisa mandiri, plintat-plintut, dan berwatak pengecut dengan omong besar tapi kerja kecil.

Janji kampanye soal segala gratis tinggal rekaman, lapangan kerja menyisakan lapangan tanpa kerja, MBG lebih makan hati dan jadi sarang korupsi, tulis Rizal mengkritik kinerja pemerintah.

Prabowo menjadi sorotan atas ketidakbecusannya memimpin sehingga menjadi layak untuk digulingkan, dan suara itu semakin menguat di tengah masyarakat.

Konstitusi membuka jalan dari pintu terbaru yakni perbuatan tercela, seperti perayaan ulang tahun spesial Seskab Teddy Indra Wijaya di hotel mewah Paris bersama Prabowo.

Harga hotel yang sangat mahal hingga ratusan juta per malam menjadi tontonan pemimpin yang dinilai tidak peka di tengah rakyat yang susah dan menderita.

Hubungan Prabowo dengan Teddy dinilai perlu dikritisi dan diinvestigasi karena termasuk kualifikasi perbuatan tercela menurut narasi konstitusi.

Rizal memperingatkan agar hubungan Prabowo-Teddy jangan sampai menjadi seperti Louis XVI dan Marie Antoinette yang menyebabkan revolusi berujung hukuman mati.

Suara makzulkan atau gulingkan Prabowo-Gibran terus menggema karena rakyat sudah muak memiliki pemimpin yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

Kini seruan rakyat menuju gerakan rakyat semesta reformasi jilid II adalah tangkap dan adili Jokowi, serta makzulkan Prabowo-Gibran, tegas Rizal.

Kemarahan rakyat Perancis yang menghukum mati Louis XVI di bawah guillotine harus menjadi pelajaran penting akibat kesenjangan antara pejabat istana dan rakyat jelata.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung