Repelita [Jakarta] - Warga di wilayah Pasuruan dan Probolinggo saat ini tengah menghadapi kesulitan akibat pemadaman listrik bergilir yang berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Gangguan suplai setrum ini memberikan dampak signifikan bagi para pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah yang sangat bergantung pada daya listrik untuk operasional harian.
ADVERTISEMENT
Di Kabupaten Pasuruan, produktivitas perajin keset di Desa Karangrejo, Purwosari, sempat lumpuh total karena mesin jahit listrik tidak dapat dioperasikan.
Kalau listrik padam, ya produksi berhenti total, keluh salah satu pengusaha keset bernama Rini Setya.
Masalah tidak berhenti di sana karena mesin membutuhkan waktu untuk kembali dipanaskan saat aliran listrik normal kembali, yang menyebabkan ritme kerja menjadi terhambat.
Pelaku usaha lain, seperti penjual daring dan perajin kopiah di Bangil, juga melaporkan adanya penundaan pengiriman pesanan hingga target produksi yang meleset akibat pemadaman tersebut.
Di Kota Pasuruan, pengusaha jus bernama Yuni Arwulan bahkan terpaksa mengeluarkan modal tambahan untuk menyewa genset demi mempertahankan usahanya.
Bila memakai genset, ongkos produksi pasti lebih mahal. Di tengah kondisi harga sayur yang terus naik, kami tidak mungkin menaikkan harga produk karena takut ditinggal pelanggan. Pemadaman ini jelas sangat merepotkan, tutur Yuni.
Kondisi serupa pun dirasakan pelaku usaha di Kota Probolinggo, di mana penurunan kualitas dagangan hingga hilangnya potensi omzet menjadi masalah yang tak terhindarkan.
Salim, pedagang ikan di Kelurahan Mayangan, terpaksa menanggung kerugian karena es di pendingin mencair dan menurunkan kualitas kesegaran daging ikan miliknya.
Alhasil harganya turun sekitar 10 persen karena ikan jadi lemas. Konsumen akhirnya membeli dengan harga murah. Seharusnya ada kompensasi dari pihak PLN untuk kerugian seperti ini, tegas Salim.
Menanggapi keluhan masyarakat, Manajer PLN UP3 Pasuruan, Agus Susanto, mengonfirmasi adanya kebijakan manajemen beban akibat gangguan teknis pada pembangkit.
PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di beberapa lokasi agar gangguan tidak meluas. Waktunya bervariasi, bisa pagi, siang, atau malam hari dengan durasi sekitar tiga jam. Kami belum bisa memastikan kondisi ini akan berlangsung sampai kapan, jelas Agus.
Ia menambahkan bahwa pihak PLN berusaha tetap menjaga fasilitas publik serta industri besar agar roda ekonomi tidak terhenti sepenuhnya.
Sementara itu, pihak PLN ULP Probolinggo menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan tersebut meski mengaku tidak mengetahui detail teknis penyebab gangguan di sisi pembangkit.
Terkait kendala detail di sisi pembangkit, kami kurang tahu karena wilayah kerja kami berada di sisi distribusi, ujar Manajer PLN ULP Probolinggo, Ocgik Wahyu Dewanto.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai kapan pasokan listrik di kedua wilayah tersebut akan kembali pulih secara normal sepenuhnya bagi masyarakat. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok