Repelita [Jakarta] - Kecaman keras dilayangkan oleh juru bicara partai politik besar terhadap lontaran narasi percepatan suksesi kepemimpinan sebelum masa jabatan resmi tuntas.
Pernyataan kontroversial yang sempat mencuat ke permukaan tersebut dinilai sangat tidak pantas di tengah penderitaan masyarakat yang sedang dilanda musibah.
ADVERTISEMENT
Sejumlah wilayah di berbagai penjuru nusantara saat ini terpantau masih bergulat menghadapi bencana alam maupun krisis lingkungan parah.
Mulai dari musibah kebakaran hutan, pemulihan pascabencana di pulau barat, gempa bumi, hingga kekeringan melanda sebagian besar sentra pertanian.
"Kalimantan dibakar, Sumatera belum pulih, NTT gempa, Jawa kekeringan, Pemilu 2029 juga masih jauh. Kok bisa-bisanya Budi Arie nyerocos di samping Jokowi soal kemungkinan percepatan 2029?" kata Guntur.
Kemunculan wacana politis itu memunculkan persepsi negatif bahwa segelintir elite lingkar kekuasaan lama masih mengutamakan syahwat politik praktis.
Alih-alih memikirkan penderitaan rakyat kecil, para tokoh tersebut justru asyik merancang skenario perebutan pengaruh kekuasaan.
"Di tengah rakyat masih berjibaku dengan asap, sawah kekeringan, kok yang dipikirkan segelintir elite di lingkaran istana lama ini malah skenario percepatan kekuasaan?" ujarnya.
Sorotan tajam turut dialamatkan pada rekam jejak masa lalu sang tokoh relawan yang semestinya lebih fokus menyelesaikan persoalan hukum.
Dugaan keterlibatan dalam skandal jaringan terlarang serta polemik hukum lain dipandang jauh lebih mendesak untuk diselesaikan ketimbang mengumbar opini liar.
"Budi Arie ini bukannya harus diperiksa kasus dugaan terlibat judol atau penceminar nama baik terhadap PDI Perjuangan. Kok malah nyerocos soal percepatan 2029," kata Guntur.
Keberadaan figur publik yang kini berada di luar jajaran kabinet eksekutif diingatkan agar tidak memperkeruh stabilitas nasional. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok