Repelita Teheran - Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat terancam batal lantaran ulah Zionis Israel yang menghantam Lebanon dengan serangan terberatnya pada Rabu (8/4/2026).
Dalam serangan Israel ke Lebanon tersebut dilaporkan menewaskan ratusan orang sehingga memicu ancaman pembalasan dari Iran.
ADVERTISEMENT
Peringatan dari negosiator utama Iran, Ketua Parlemen Mohammed Bager Qalibaf, menunjukkan volatilitas yang terus berlanjut di kawasan itu setelah pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump.
Kedua pihak telah menetapkan agenda yang sangat kontras untuk pembicaraan perdamaian yang akan dimulai pada hari Sabtu.
Qalibaf mengatakan bahwa Israel telah melanggar beberapa ketentuan gencatan senjata dengan meningkatkan perang paralel melawan milisi Hizbullah.
Sementara Amerika Serikat dinilai melanggar perjanjian karena bersikeras agar Iran meninggalkan ambisi nuklirnya.
"Dalam situasi seperti itu, gencatan senjata bilateral atau negosiasi tidak masuk akal," katanya dalam sebuah pernyataan tegas.
Israel dan Amerika Serikat sama-sama mengatakan bahwa gencatan senjata selama dua minggu itu tidak mencakup wilayah Lebanon.
"Saya pikir Iran mengira gencatan senjata itu mencakup Lebanon, padahal tidak," kata Wakil Presiden AS JD Vance kepada wartawan di Budapest.
Kedua pihak juga memiliki perbedaan pendapat yang jauh mengenai program nuklir Iran yang menjadi faktor dikutip Trump sebagai dasar perang.
Trump mengklaim bahwa Iran telah setuju untuk berhenti memperkaya uranium yang dapat diubah menjadi senjata nuklir.
Gedung Putih bahkan mengatakan Iran telah mengindikasikan akan menyerahkan stok uranium yang sudah dimiliki saat ini.
"Amerika Serikat, bekerja sama dengan Iran, akan menggali dan menyingkirkan semua 'Debu' Nuklir yang terkubur dalam-dalam," kata Trump di media sosial.
Namun Qalibaf membantah klaim tersebut dengan mengatakan bahwa Iran masih diizinkan untuk melanjutkan pengayaan uranium.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam akun media sosial X menuliskan bahwa syarat-syarat gencatan senjata antara AS-Iran sudah jelas dan eksplisit.
Ia menegaskan bahwa Amerika harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel.
Dikutip dari laporan kantor berita Tasnim, Teheran akan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika Israel terus menyerang Lebanon.
Tentara Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit di berbagai wilayah Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon Selatan.
Sambil secara bersamaan menyerang Iran sejak 28 Februari lalu, Israel telah melancarkan serangan udara dan darat di Lebanon selatan.
Agresi itu tetap dilakukan meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak November 2024.
Setelah mediasi Pakistan, Presiden Donald Trump pada Selasa (7/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran.
Trump mengatakan bahwa Teheran telah mengajukan proposal 10 poin yang dapat diterapkan untuk negosiasi lebih lanjut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok