Berita, Timur Tengah

Parade Militer Iran Usung Peti Mati Simbolis Trump dan Netanyahu di Teheran, Basij Sebut Jadi Mimpi Buruk Musuh

Repelita.id

20 September 2026 19:43 WIB

Parade Militer Iran Usung Peti Mati Simbolis Trump dan Netanyahu di Teheran, Basij Sebut Jadi Mimpi Buruk Musuh
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Angkatan bersenjata Republik Islam Iran menggelar parade militer skala besar di jantung kota Teheran dengan mengusung dua peti mati artifisial yang menampilkan potret wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Demonstrasi teatrikal tersebut sengaja diintegrasikan ke dalam rangkaian unjuk kekuatan logistik pertahanan nasional di tengah bayang-bayang eskalasi ketegangan geopolitik dan ancaman konfrontasi fisik bersenjata yang kian meruncing dengan kubu sekutu Barat.

ADVERTISEMENT

Simbol perlawanan politik tersebut digotong secara beriringan oleh sejumlah personel bersenjata lengkap dari jajaran Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam prosesi pawai yang dilangsungkan pada hari Jumat, 20 September 2026.

Kedua kotak replika jenazah yang memuat identitas visual dari para pemimpin negara seteru tersebut dibalut menggunakan lembaran bendera kebangsaan Amerika Serikat serta Israel sebagai bentuk pesan penentangan yang sangat tegas.

Melalui momentum ini, pihak otoritas pemerintah setempat memanfaatkan pameran alutsista dan personifikasi visual guna menegaskan kesiapan total doktrin pertahanan negara dalam mengantisipasi segala potensi pecahnya perang terbuka.

Berdasarkan maklumat resmi dari Korps Mohammad Rasulullah Raya Teheran, agenda pameran kekuatan ini ditujukan sebagai bentuk unjuk gigi kesiapan lini ofensif dan defensif guna meredam setiap potensi agresi asing dari pihak luar.

Di sepanjang rute pergerakan pasukan, sejumlah elemen peserta aksi kedapatan melakukan tindakan simbolis berupa penginjakan simbol bendera asing sembari menyuarakan yel-yel perlawanan yang berbunyi Death to America dan Death to Israel.

Gelaran parade kolosal ini dilaksanakan pada saat perekonomian domestik Iran tengah mengalami tekanan hebat akibat penetapan sanksi ekonomi berlapis dari Washington serta penerapan strategi blokade maritim di pintu-pintu dermaga utama.

Pada momentum hari yang sama, pihak keamanan maritim Teheran juga mengonfirmasi adanya insiden gangguan navigasi keamanan berupa serangan siber atau fisik yang menyasar unit armada kapal tanker di kawasan perairan Selat Hormuz.

Selat strategis yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia tersebut hingga kini masih memegang peranan krusial sebagai episentrum gesekan militer antara kubu Iran dengan barisan negara-negara lawan politiknya.

Selain mempertontonkan barisan divisi reguler, pihak otoritas siber dan pertahanan juga memamerkan program mobilisasi massa berupa rekrutmen warga sipil untuk diikutsertakan ke dalam program latihan kemiliteran terpadu.

Gerakan sukarelawan kemanusiaan dan pertahanan yang diberi tajuk Janfaday-e Iran atau para pencari syahid pembela tanah air tersebut menggerakkan ribuan warga untuk berjalan tertib melintasi pusat pemerintahan dengan seragam taktis.

Saluran media komunikasi milik pemerintah pusat sejak jauh hari telah mengamplifikasi seruan nasional agar masyarakat luas bersedia mendaftarkan diri guna memperkuat komponen cadangan pertahanan nasional di lapangan.

Para partisipan sipil ini nantinya akan dibekali keahlian teknis pengoperasian senjata api laras panjang guna diplot sebagai lapis pengamanan ter luar di bawah kendali utama pasukan inti IRGC dan organisasi milisi sukarela Basij.

Komandan Jenderal IRGC wilayah teritorial Teheran, Hassan Hassanzadeh, mengklaim bahwa antusiasme warga sangat tinggi di mana saat ini jumlah pendaftar resmi telah menembus angka di atas 600.000 orang peserta aktif.

Pihak komando menargetkan akumulasi total kekuatan elemen cadangan dari unsur masyarakat sipil ini dapat digelembungkan hingga mencapai kuota di atas 1 juta orang personel pada fase akhir program.

Sementara itu, stasiun televisi nasional setempat merilis estimasi visual yang memperkirakan ada lebih dari 300.000 orang massa yang memadati ruas-ruas jalan protokol Teheran sejak fajar hari Jumat dilaksanakan.

Kepala kepemimpinan baru organisasi milisi Basij, Hossein Taeb, menyatakan bahwa seluruh elemen relawan kemanusiaan ini sengaja digembleng keras agar siap dikonversi menjadi lini pertahanan penuh saat kedaulatan negara terancam.

Pertahanan penuh, tutur Hossein Taeb dalam penggalan pidato pembukaannya di hadapan ribuan barisan pasukan, sembari menegaskan bahwa manifesto gerakan serupa segera direplikasi secara serentak di kota-kota provinsi lainnya.

Pembicara utama milisi tersebut sesumbar dengan menegaskan bahwa para peserta pelatihan nantinya akan menjadi nightmare atau mimpi buruk bagi musuh Iran yang mencoba mengganggu kedaulatan wilayah mereka.

Jalannya agenda inspeksi pasukan ini disaksikan langsung secara seksama oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersama jajaran perwira tinggi militer serta para fungsionaris senior dari lembaga tinggi pemerintahan pusat.

Parade ini sekaligus menjadi panggung unjuk teknologi persenjataan domestik di mana berbagai varian rudal balistik, drone pengintai, hingga perangkat baterai sistem pertahanan udara antipesawat dipamerkan ke publik.

Di sudut lain area pameran, tampak barisan unit infanteri perempuan bentukan Garda Revolusi dengan busana khas kerudung hitam pekat bersiaga di atas kendaraan taktis yang dilengkapi perangkat senapan mesin otomatis.

Sejumlah partisipan aksi secara terbuka menyuarakan alasan kehadiran mereka di lapangan sebagai bentuk manifesto nyata menolak segala bentuk intimidasi politik yang kerap diembuskan oleh Gedung Putih.

Saya di sini untuk memberi tahu Trump bahwa kami warga Iran tidak takut dengan ancamannya terhadap tanah air kami, tegas seorang perempuan peserta aksi berusia 24 tahun bernama Marzieh Afaghi yang hadir memboyong keluarganya.

Dirinya mengakhiri argumen dengan melontarkan peringatan historis berupa ungkapan bahwa tidak ada seorang pun dalam sejarah yang bisa menyerang Iran dan tetap tinggal di sana.

Maka dari itu, teatrikal peti mati simbolis bagi dua tokoh sentral global tersebut tidak lagi sekadar dipandang sebagai materi propaganda komunikasi visual melainkan cerminan soliditas internal militer siber Iran. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung