Repelita Jakarta - Dinamika politik menjelang kontestasi nasional mendatang kembali memanas setelah terjadinya pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatannya di sektor keuangan yang dinilai memberikan keuntungan elektoral bagi pihak tertentu.
Analisis tajam ini dibagikan oleh Doktor Pangi Syarwi Chaniago selaku Pengamat Politik sekaligus Direktur Foxpopuli Research Center dalam sebuah tayangan diskusi yang disiarkan oleh kanal YouTube Forum Keadilan TV pada hari Sabtu, 19 September 2026.
ADVERTISEMENT
Dalam perbincangan mendalam bersama jurnalis senior Margi Syarif tersebut, sang pakar memaparkan bahwa pendepakan Purbaya secara otomatis mengeliminasi salah satu figur potensial yang memiliki tingkat keterpilihan cukup diperhitungkan.
Situasi ini dinilai memberikan keuntungan instan atau durian runtuh bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka karena jumlah rival politik yang akan dihadapi pada pemilihan presiden tahun 2029 mendatang kini menjadi semakin berkurang.
Mengenai dampak langsung dari pemberhentian tersebut, Pangi Syarwi Chaniago menjelaskan secara blak-blakan mengenai kalkulasi keuntungan politik yang diperoleh oleh kelompok pendukung Solo di panggung nasional.
"Geng Solo mendapat benefit dari pemecatan Purbaya dengan terlemparnya atau teralianasinya atau tereliminasinya ee Purbaya artinya kontestasi besok lawan tanding itu kan sudah berkurang karena kan di hasil-hasil racikan elektoral elektabilitas Purbaya kan termasuk lawan tanding juga yang elektabilitasnya cukup dikhawatirkan juga agak menyala ini potensial 2029," ujar Pangi saat memberikan pemaparan di studio pada hari Sabtu, 19 September 2026.
Lebih lanjut, ia menguraikan pandangannya mengenai ambisi politik mantan Presiden Joko Widodo yang diprediksi akan mengerahkan segala upaya strategis demi memuluskan jalan politik sang anak sulung.
Menurutnya, skenario utama dari pergerakan ini adalah memastikan tidak ada figur alternatif lain di pemerintahan yang memiliki popularitas atau daya pikat yang lebih kuat dibandingkan dengan performa sang Wakil Presiden saat ini.
Pakar ilmu politik tersebut menggambarkan situasi persaingan ini dengan analogi lampu pijar yang saling berebut untuk memancarkan cahaya paling benderang di mata publik.
"Enggak boleh bagi Pak Jokowi mungkin ada lampu lebih terang daripada Gibran tinggal AHY tapi kan enggak mudah mematikan lampu AHY dia punya partai andaikan AHY hari ini tidak jadi ketua umum partai masih bertahan enggak AY dicarikan untuk diberhentikan pasti akan digaji yang nyala itu lampu Gibran aja bagi Pak Jokowi enggak boleh lagi yang terang selain Pak Gibran gitu itu canggihnya Pak Jokowi ini," pungkas Pangi dalam siaran video Forum Keadilan TV tersebut. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok