Berita, Nasional

Obsesi Afirmasi Presiden Prabowo, Peneliti ISEAS: Kebijakan Indonesia Mudah Dimanipulasi Pihak Asing

Repelita.id

19 July 2026 17:53 WIB

Obsesi Afirmasi Presiden Prabowo, Peneliti ISEAS: Kebijakan Indonesia Mudah Dimanipulasi Pihak Asing
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Peneliti dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma, menyoroti kecenderungan Presiden Prabowo Subianto yang kerap mengaitkan berbagai isu dalam negeri dengan narasi asing atau luar negeri.

Menurut Made, setidaknya ada tiga pola utama dalam gaya bicara Presiden terkait isu tersebut.

ADVERTISEMENT

Pola pertama adalah narasi yang memposisikan Indonesia sebagai korban dari pihak luar yang tidak ingin melihat kemajuan bangsa.

Anda tentu tidak asing dengan suara serak menggelegar yang sering dia ucapkan, 'Hai antek-antek asing!' Barusan saja dia pidato bahwa ada negara lain yang tidak senang Indonesia maju.

Indonesia negara kaya, tapi ada negara yang berusaha merampok kekayaan Indonesia habis-habisan, ujar Made dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/7/2026).

Pola kedua adalah upaya mencari validasi melalui klaim bahwa program pemerintah mendapat pujian dari negara lain, meskipun tanpa rincian spesifik mengenai negara mana yang memberikan apresiasi tersebut.

Ini adalah upaya mendapat pengakuan.

Ini mirip seperti bujang-bujang yang mencari afirmasi, tegasnya.

Pola ketiga berkaitan dengan kesejahteraan petani, di mana Presiden menyebutkan banyak petani kini mampu berlibur ke luar negeri.

Made mempertanyakan keakuratan data tersebut mengingat mayoritas petani di Indonesia masih hidup dalam kondisi subsisten.

Saya tidak tahu siapa yang membisiki Prabowo untuk soal petani ini.

Sebab sebagian besar petani Indonesia adalah mereka yang hidup subsisten, artinya cukup untuk makan, tambahnya.

Secara psikologis, Made menilai Presiden Prabowo memiliki kebutuhan afirmasi yang tinggi sehingga cenderung dikelilingi oleh orang-orang yang terus memberikan dukungan, alih-alih masukan rasional.

Ada yang tidak beres di sini.

Presiden kita ini agaknya sangat obsesif dengan luar negeri.

Apa-apa dia kaitkan dengan luar negeri atau asing, urai Made.

Menurutnya, pemimpin dengan karakter seperti itu cenderung menghindari kritik, dan justru membuka celah bagi aktor global untuk memanipulasi kebijakan Indonesia melalui pemberian afirmasi semu.

Saya kira bahkan para politisi di luar negeri tahu itu.

Kalau mereka membutuhkan sesuatu dari Indonesia, mereka cukup memberikan afirmasi kepada pemimpinnya, pungkasnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung