Repelita Jakarta - Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat terancam batal akibat ulah Zionis Israel yang melancarkan serangan terberatnya terhadap Lebanon pada Rabu (8/4).
Serangan Israel ke Lebanon tersebut menewaskan ratusan orang, sehingga memicu ancaman pembalasan dari Iran yang menyatakan bahwa akan tidak masuk akal untuk melanjutkan pembicaraan guna mencapai kesepakatan perdamaian permanen dengan Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Peringatan dari negosiator utama Iran, Ketua Parlemen Mohammed Bager Qalibaf, menunjukkan volatilitas yang terus berlanjut di kawasan tersebut setelah pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump.
Kedua pihak telah menetapkan agenda yang sangat kontras untuk pembicaraan perdamaian yang akan dimulai pada hari Sabtu, tetapi tidak jelas apakah gencatan senjata dua minggu akan bertahan hingga saat itu.
Ia mengatakan Israel telah melanggar beberapa ketentuan gencatan senjata dengan meningkatkan perang paralel melawan milisi Hizbullah yang bersekutu dengan Iran.
Sementara Amerika Serikat dinilai melanggar perjanjian tersebut karena bersikeras agar Iran meninggalkan ambisi nuklirnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali membuat publik geger dengan pernyataan mengejutkan di tengah gencatan senjata Amerika Serikat dengan Iran yang menguak niat busuk Zionis Israel.
Ia dengan sesumbar mengatakan bahwa militer Israel tetap dalam posisi siaga penuh dan siap kembali berperang dengan Iran kapan pun diperlukan.
"Biarkan saya memperjelas ini, kami masih memiliki tujuan yang harus diselesaikan dan kami akan mencapainya baik melalui kesepakatan maupun melalui perang kembali," ucap Netanyahu melalui siaran televisi Israel yang dilansir pada Rabu (8/4).
Ia juga menegaskan bahwa jeda pertempuran selama dua minggu ini bukanlah akhir dari kampanye militer Israel melainkan hanya taktik untuk melumpuhkan Iran.
Ia menyebut kondisi saat ini hanyalah salah satu tahapan untuk mencapai ambisi besar Israel dalam melumpuhkan kekuatan Iran.
"Kami siap kembali bertempur setiap saat jika diperlukan, jari kami tetap berada di atas pelatuk, ini bukan akhir dari perjuangan melainkan pencapaian semua tujuan kami," katanya.
Menurut Netanyahu, Iran memasuki masa jeda ini dalam kondisi rapuh dan lebih lemah akibat gempuran bertubi-tubi yang mereka terima.
Pidato Netanyahu tersebut merupakan balasan atas kritik tajam dari tokoh oposisi Israel Yair Lapid yang sebelumnya menyebut gencatan senjata sebagai bencana diplomatik dan menuding Netanyahu gagal mencapai target utama perang sebelum menyetujui jeda.
Namun Netanyahu berkilah dengan memaparkan sejumlah pencapaian militer yang diklaim telah diraih bersama sekutunya, yakni Amerika Serikat.
Meski telah melakukan gencatan senjata, Iran tetap memberikan ultimatum tegas kepada Amerika Serikat antara memilih gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menulis di akun media sosial X miliknya pada Rabu (8/4): "Syarat-syarat gencatan senjata antara AS-Iran jelas dan eksplisit, Amerika harus memilih gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel, Amerika tak dapat memiliki keduanya."
Ia menambahkan bahwa dunia melihat pembantaian di Lebanon, dan menulis: "Bola ada di tangan Amerika dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya."
Dikutip dari laporan kantor berita Tasnim, Teheran akan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika Israel terus melakukan pelanggaran melalui serangan terhadap Lebanon.
Tentara Israel mengatakan mereka menyerang lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit di berbagai wilayah di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon Selatan, dalam serangan terkoordinasi terbesar sejak dimulainya serangan terbaru di Lebanon.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok