Repelita Yerusalem - Otoritas tertinggi pemerintah zionis secara terbuka mengumumkan strategi perluasan wilayah kedaulatan militer secara sepihak di kawasan Jalur Gaza meskipun kesepakatan penghentian kontak senjata masih dinyatakan berjalan.
Langkah ofensif tersebut langsung memicu kecaman global sekaligus kekhawatiran mendalam mengenai ambisi terselubung pihak pendudukan untuk menguasai tanah Palestina secara permanen pasca-agresi panjang yang menghancurkan infrastruktur sipil.
ADVERTISEMENT
Melalui agenda pertemuan internal jajaran menteri akhir pekan lalu, pemimpin tertinggi zionis memaparkan pencapaian teritorial pasukannya yang kini diklaim telah mencakup sebagian besar wilayah strategis di kantong pengungsian tersebut.
“Di Gaza sekarang, kami sudah menguasai bukan 50 persen, tetapi 60 persen,” kata Netanyahu.
Pernyataan sepihak tersebut sekaligus mempertegas berbagai indikasi di lapangan mengenai adanya mobilisasi pasukan defensif yang sengaja menerobos batasan geografis yang sebelumnya telah disepakati dalam nota perjanjian damai bentukan barat.
Dampak dari manuver geopolitik ini kian mempersempit ruang gerak serta mempersulit sisa bertahan hidup jutaan warga sipil yang kini terisolasi dalam radius wilayah yang sangat terbatas di luar kendali militer.
Sejak awal masa transisi damai, otoritas bersenjata sebenarnya telah menetapkan pembatas perimeter ketat yang akan direspons dengan tindakan fatal bagi siapapun yang mencoba mendekati kawasan terlarang tersebut.
Memasuki bulan Maret lalu, pihak pertahanan secara rahasia merilis panduan peta baru yang menambahkan zona demiliterisasi tambahan hingga memperluas cakupan wilayah sitaan menjadi hampir dua pertiga dari total luas daratan.
Dokumen pemetaan berkala tersebut kabarnya telah diteruskan kepada sejumlah perwakilan lembaga kemanusiaan internasional yang beroperasi di lapangan guna menjadi acuan pembatasan logistik dan pergerakan relawan.
Meskipun pihak otoritas berdalih kebijakan baru ini demi kelancaran penyaluran bantuan, fakta di lapangan justru menunjukkan peningkatan eskalasi ketakutan di kalangan keluarga pengungsi yang terancam menjadi sasaran tembak sewaktu-waktu.
Muncul pula spekulasi bahwa pergeseran garis demarkasi ini merupakan sinyal kuat mengenai rencana pembentukan pangkalan militer tetap untuk memastikan lumpuhnya kekuatan pertahanan lokal dalam jangka panjang.
“Kami memperketat cengkeraman kami terhadap Hamas,” ujar Netanyahu.
“Kami tahu persis apa misi kami, dan misi kami hanya satu, memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel,” lanjutnya.
Kendati demikian terdapat pergeseran narasi politik di mana pihak kepemimpinan tidak lagi menekankan jargon pembubaran total kelompok perlawanan secara menyeluruh seperti yang kerap digaungkan pada awal sengketa bersenjata.
Dalam pidato resminya, pucuk pimpinan zionis juga mengonfirmasi perihal keberhasilan operasi intelijen yang menewaskan salah satu figur sentral perancang strategi penyerangan lintas batas pada medio Oktober beberapa tahun silam.
“Saya berjanji bahwa semua arsitek pembantaian dan semua arsitek penculikan akan dilenyapkan, satu per satu, dan kami semakin dekat untuk menyelesaikan misi itu,” katanya.
Kondisi gencatan senjata kian berada di ambang kehancuran setelah jet tempur militer kembali dilaporkan meluncurkan serangan udara presisi yang menyasar pusat komando pertahanan lokal pada akhir pekan kemarin.
"Baroud menimbulkan ancaman langsung bagi pasukan IDF dan diserang serta dieliminasi melalui serangan udara presisi," kata militer Israel.
Di sisi lain laporan data kesehatan otoritas lokal menunjukkan angka fatalitas warga sipil yang terus membubung tinggi akibat rentetan serangan sporadis yang mengabaikan kesepakatan damai sementara tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok