Berita, Timur Tengah

Negosiasi 21 Jam Gagal Total, Iran Siapkan Rudal Ribuan Unit usai Trump Blokade Selat Hormuz

Repelita.id

15 April 2026 23:26 WIB

Negosiasi 21 Jam Gagal Total, Iran Siapkan Rudal Ribuan Unit usai Trump Blokade Selat Hormuz
Foto: Istimewa

Repelita Islamabad - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meledak setelah upaya perundingan damai yang digelar di Islamabad, Pakistan, selama 21 jam marathon pada akhir pekan lalu resmi menemui jalan buntu tanpa hasil.

Wakil Presiden AS JD Vance secara blak-blakan menyatakan bahwa pihaknya telah menyodorkan tawaran final dan terbaik, namun Iran menolak memberikan konsesi terutama terkait pengembangan senjata nuklir.

ADVERTISEMENT

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah sepenuhnya menyalahkan Teheran dengan mengatakan bahwa kedua pihak sebenarnya telah mencapai pemahaman bersama di beberapa isu, namun masih ada perbedaan pendapat di dua hingga tiga isu penting.

Kegagalan negosiasi ini langsung direspons Teheran dengan sikap garang, dimana Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei-Nik, menegaskan negaranya siap melanjutkan operasi militer dengan menyiapkan persenjataan besar-besaran.

Iran memiliki inventaris rudal balistik terbesar di Timur Tengah dengan jumlah diperkirakan mencapai ribuan unit, mulai dari jarak pendek, menengah, hingga jangkauan 4.000 kilometer.

Rudal canggih seperti Fattah-1 yang merupakan rudal hipersonik dengan berat hulu ledak mencapai satu ton serta Kheybar Shekan dengan jangkauan 2.000 kilometer menjadi tulang punggung pertahanan Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan AS bahwa aksi militer hanya akan memperburuk masalah yang diciptakan sendiri oleh Washington, seraya menegaskan Iran tetap berkomitmen pada diplomasi namun ancaman dan tekanan tidak akan membantu.

Di sisi lain, militer AS juga menyiapkan langkah balasan dengan pengerahan kekuatan militer skala besar di kawasan tersebut, dimana Presiden Donald Trump mengumumkan dimulainya blokade angkatan laut di Selat Hormuz.

Kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, dengan tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz adalah hak negara Iran yang tidak bisa dinegosiasikan untuk dibuka atau ditutup.

Meskipun situasi memanas, Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyatakan negaranya siap memfasilitasi dialog lebih lanjut, namun gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada 22 April 2026 terancam jebol.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung