Repelita [Jakarta] - Sejumlah negara di benua Afrika mulai memperluas pemanfaatan mata uang yuan milik Tiongkok guna menekan ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam aktivitas perdagangan internasional.
Langkah strategis tersebut diwujudkan dengan menghubungkan jaringan lembaga keuangan regional ke dalam sistem pembayaran lintas batas alternatif pengganti jaringan global konvensional.
ADVERTISEMENT
Libya menjadi negara terbaru yang bersiap mengintegrasikan sistem perbankan nasionalnya setelah pimpinan bank sentral kedua negara menggelar pertemuan bilateral di Beijing bulan lalu.
Pemerintah Libya menilai keikutsertaan dalam jaringan transaksi langsung tersebut bakal mempercepat arus pengiriman dana komersial sekaligus mempermudah efisiensi biaya perdagangan.
Rencana penerbitan obligasi berdenominasi yuan turut disiapkan guna mendukung pembiayaan pemulihan infrastruktur negara yang sempat porak-poranda akibat konflik berkepanjangan.
Langkah serupa sebelumnya telah lebih dulu ditempuh oleh institusi perbankan besar di Afrika Selatan serta sejumlah lembaga pembiayaan regional lainnya.
Pemerintah Zambia bahkan telah mulai memberlakukan kewajiban pembayaran pungutan pajak sektor pertambangan langsung menggunakan mata uang Tiongkok sejak awal tahun ini.
Dominasi dolar Amerika Serikat secara perlahan mulai digeser melalui berbagai perjanjian bilateral konversi utang serta perluasan fasilitas pertukaran valuta asing di berbagai negara Afrika.
Lonjakan volume perdagangan bilateral yang menembus angka ratusan miliar dolar turut memperkuat posisi Tiongkok sebagai mitra dagang serta penyandang dana infrastruktur utama di kawasan tersebut.
Para pengamat ekonomi menilai ekspansi sistem pembayaran alternatif ini sengaja dirancang untuk membangun infrastruktur keuangan global tandingan secara bertahap.
Meski belum mampu meruntuhkan dominasi mata uang Paman Sam dalam waktu dekat, skema pembayaran tersebut dinilai sukses memberikan opsi alternatif bagi negara-negara berkembang. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok