Repelita Jakarta - Pengamat Kebijakan sekaligus Ahli Pengadaan dan Manajemen Proyek Nandang Sutisna melemparkan kritik tajam mengenai transparansi dokumen negara melalui sebuah unggahan di media sosial miliknya pada hari Kamis, 5 November 2026.
ADVERTISEMENT
Melalui tulisan di akun personalnya, Nandang Sutisna mempertanyakan alasan dokumen krusial tersebut baru ditunjukkan kepada khalayak setelah muncul polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.
"Mengapa ijazah ini tidak ditunjukkan sejak awal untuk meredam polemik? Setelah perdebatan panjang, saling tuding, dan kegaduhan yang menguras energi publik, barulah dokumen tersebut diperlihatkan," tulis akun @nandangsutisnachannel dalam unggahan berdurasi satu jam lalu tersebut.
Dirinya menilai bahwa langkah keterbukaan informasi yang dilakukan sejak awal polemik bergulir akan jauh lebih efektif guna menjaga tingkat kepercayaan masyarakat agar tidak mengalami penurunan.
"Pertanyaannya, apakah semua kegaduhan ini sebenarnya bisa dihindari? Transparansi sejak awal mungkin jauh lebih baik daripada membiarkan kepercayaan publik terus terkikis," tambah akun @nandangsutisnachannel pada akhir pernyataannya.
Unggahan mengenai dokumen kelulusan mantan Presiden Joko Widodo itu langsung memicu gelombang interaksi masif dari para pengguna media sosial yang memadati kolom komentar dengan berbagai opini bertolak belakang.
Tanggapan pertama muncul dari seorang netizen yang menilai mantan kepala negara tidak memiliki kewajiban moral untuk merespons setiap tuduhan negatif yang dialamatkan kepada dokumen pribadinya.
"Jawabannya gampang bre : "Siapa elo nyuruh-nyuruh gue menunjukkan data sensitif (ijaza) gue?" Jadi bre, omongan orang itu nggak selalu harus direspon," tulis akun utwizz memberi pembelaan.
Pengguna internet tersebut juga menambahkan argumentasi bahwa meladeni setiap pertanyaan yang didasari oleh sentimen personal hanya akan menguras energi tanpa membuahkan hasil positif.
"Lu merespon setiap kalimat orang yg keluar dari dasar kebencian, capek sendiri kamu meladenin. Serius bre," sambung akun utwizz dalam komentarnya yang diunggah satu jam lalu.
Pandangan berbeda disampaikan oleh warganet lain yang menegaskan posisi mantan presiden sebagai pejabat publik yang kinerjanya serta rekam jejaknya sah-sah saja untuk dikritisi masyarakat.
"Emangnya kenapa kalau ada yang mempertanyakan? Dia kan pejabat publik, presiden lagi," tulis akun aripriyantika melayangkan protesnya sekitar 59 menit yang lalu.
Pendapat senada juga dilontarkan oleh netizen lain yang memandang interogasi terhadap keabsahan dokumen seorang aparatur negara merupakan bagian dari kontrol sosial yang wajar.
"kalo jd pejabat publik mah hal wajar klo ditanyakn," tulis akun dr.konten.id dalam kolom komentar unggahan pengamat kebijakan tersebut.
Sebaliknya, dukungan terhadap langkah hukum mantan presiden mengalir dari netizen yang menilai pembuktian keaslian dokumen kelulusan di hadapan majelis hakim merupakan pilihan paling tepat.
"Ya ngapain ditunjukin di acara yg gak formal Mas ? Gada kewajiban buat Jokowi nunjukin ijazahnya sama orang banyak..," tulis akun chisel_2211 sekitar satu jam yang lalu.
Akun tersebut berpendapat bahwa pembuktian resmi di wilayah peradilan memiliki kekuatan hukum mengikat serta akuntabilitas yang jauh lebih tinggi ketimbang sekadar pamer di ruang publik formal.
"Mending tunjukin di persidangan, jelas, legal, dan bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.. Justru aneh kalau Pak Jokowi perlihatkan ijazahnya di event yang tidak legal.. Aneh sampeyan," tambah akun chisel_2211.
Di sisi lain, desakan untuk melakukan audit forensik secara menyeluruh terhadap fisik dokumen tersebut disuarakan oleh warganet yang mengaku lelah dengan drama politik ini.
"Masih bisa di test uji karbon untuk menentukan umur kertas dan tintanya. Kalau jujur gak akan berbelit belit sampai banyak korban dan bikin gaduh. MUAKK !!!," tulis akun habibie_tista04.
Kritik pedas juga dilayangkan kepada para pihak yang terus mempermasalahkan dokumen tersebut, di mana keaslian ijazah itu dinilai sudah final sejak adanya klarifikasi dari pihak universitas.
"Orang waras denger apa kata rektor ugm udah cukup. Ini goblok dan tolol sih ngadi2 sok peneliti aslinya cuma kacung2 tukang fitnaah doang. Goblokpoll emang," tulis akun maybach2646 secara sarkas.
Respons singkat juga datang dari pengguna lain yang memandang dinamika perdebatan terbuka ini layaknya sebuah panggung pertunjukan yang sengaja disuguhkan kepada masyarakat luas.
"Hmmm what a show..." tulis akun heyhoshabrina sekira 26 menit lalu merespons eskalasi ketegangan argumen di ruang digital tersebut.
Analisis mengenai adanya motif perlawanan politik di balik mencuatnya kembali isu dokumen kelulusan universitas tersebut ditutup oleh pernyataan netizen yang melihat adanya gerakan terstruktur.
"Operasi politik ya dilawan dengan political action juga lah Wong bukan rakyat yang bener² permasalahkan 😆 🤣," tulis akun koes.koes_vanuatu pada 30 menit yang lalu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads