Berita, Hukum

Nadiem Tuding Kasus Chromebook Bermula dari Dendam Birokrasi: Banyak yang Periuk Nasinya Terganggu

Repelita.id

02 June 2026 23:19 WIB

Nadiem Tuding Kasus Chromebook Bermula dari Dendam Birokrasi: Banyak yang Periuk Nasinya Terganggu
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, menyampaikan pembelaannya dalam sidang perkara dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

Dalam nota pembelaan yang dibacakan di hadapan majelis hakim, Nadiem menilai perkara yang menjerat dirinya tidak terlepas dari dampak kebijakan perubahan yang ia lakukan selama memimpin kementerian.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, program digitalisasi yang dijalankan justru mengubah pola lama pengelolaan anggaran sehingga memunculkan resistensi dari sejumlah pihak yang merasa kehilangan kepentingan.

Ia beranggapan sistem berbasis teknologi yang diterapkan selama masa jabatannya telah mempersempit ruang praktik yang sebelumnya dianggap lazim terjadi di sejumlah daerah.

"Banyak yang periuk nasinya terganggu, banyak juga yang tersinggung karena merasa mereka tidak dihargai," ujarnya.

Nadiem juga menyinggung keputusan menghadirkan tenaga profesional muda ke lingkungan kementerian yang menurutnya memicu ketegangan dengan sebagian birokrat yang telah lama berada dalam sistem.

Ia menggambarkan dinamika tersebut sebagai benturan antara kelompok yang mendorong perubahan dengan pihak yang ingin mempertahankan pola lama yang sudah berjalan.

"Kelompok yang ingin perubahan, bentrok dengan kelompok yang ingin menjaga status quo," tutur Nadiem.

Dalam pembelaannya, Nadiem turut menyampaikan keyakinannya bahwa perkara yang sedang dihadapinya tidak semata-mata berkaitan dengan aspek hukum, melainkan juga dipengaruhi pertarungan kepentingan yang muncul akibat agenda reformasi yang dijalankannya.

Ia bahkan menggambarkan situasi tersebut sebagai upaya untuk menghentikan gagasan pembaruan yang selama ini diperjuangkan dalam sektor pendidikan nasional.

"Masa lalu sedang menyerang masa depan," gambarnya singkat.

Menutup pleidoinya, Nadiem memberikan pesan kepada generasi muda yang memiliki keinginan untuk berkarier dan mengabdi di lingkungan pemerintahan.

Menurutnya, kemampuan profesional harus berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap dinamika politik agar perbedaan yang muncul tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

"Saran saya, untuk generasi berikutnya yang sedang mempertimbangkan untuk mengabdi kepada negara, temukanlah keseimbangan antara profesionalisme dan tata krama politik, karena gesekan kecil, bisa menjadi dendam besar," pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung