Berita, Internasional

Moral Tentara AS Anjlok di Tengah Perang Iran, Stres dan Frustrasi Hingga Banyak yang Mau Tinggalkan Dinas Militer

Repelita.id

30 March 2026 21:21 WIB

Moral Tentara AS Anjlok di Tengah Perang Iran, Stres dan Frustrasi Hingga Banyak yang Mau Tinggalkan Dinas Militer
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Sejumlah prajurit Amerika Serikat mengalami penurunan moral drastis di tengah cemooh publik internasional atas kebijakan Presiden Donald Trump dalam perang bersama Zionis Israel terhadap Republik Islam Iran, dengan banyak di antara mereka mempertimbangkan untuk meninggalkan pengabdian di militer.

Kondisi itu dialami serdadu Paman Sam yang ditarik maupun yang direncanakan untuk menjalani tugas dan penempatan di sejumlah negara sekutu AS di wilayah Timur Tengah, sebagaimana dilaporkan Huffington Post dalam laporannya pada Senin (30/3/2026).

ADVERTISEMENT

“Menurut wawancara dengan banyak prajurit aktif, prajurit cadangan, dan kelompok advokasi, banyak anggota militer mengalami stres berat atas tekanan publik di dalam maupun luar negeri yang mempertanyakan tujuan perang AS terhadap Iran,” bunyi laporan Huff Post yang dikutip pada Senin (30/3/2026).

“Para prajurit juga mengalami kerentanan atas rasa frustrasi di tengah meningkatnya perlawanan Iran atas agresi Amerika Serikat dan sekutunya Israel,” tambah laporan tersebut.

Polemik di dalam negeri AS itu menjalar menjadi pertanyaan serius ke pribadi para serdadu cadangan yang dijadwalkan untuk dikerahkan ke medan perang melawan Iran, dengan seorang prajurit cadangan menyampaikan penolakan tegas.

“Seorang prajurit cadangan yang berkomunikasi langsung dengan personel aktif menyampaikan bahwa, ‘Kami tidak ingin mati untuk Israel. Kami tidak mau hanya menjadi pion politik peperangan Israel’,” tulis Huff Post mengutip pernyataan prajurit tersebut.

Memasuki minggu keempat perang Trump terhadap Iran, satu hal semakin jelas bahwa tidak ada strategi yang koheren, tidak ada rencana keluar, dan tidak ada penjelasan tunggal mengapa Amerika Serikat menyerang Iran sejak awal.

Harga bensin melonjak, kecemasan ekonomi menyebar, dan Pentagon telah meminta Kongres untuk tambahan 200 miliar dolar AS guna mempertahankan konflik ini, sementara 13 anggota militer telah tewas di tengah perang sejauh ini dan setidaknya 232 lainnya terluka.

Seorang veteran dan anggota cadangan mengatakan kepada HuffPost bahwa kontak-kontaknya mengungkapkan hilangnya kepercayaan pada tingkat yang baru, dengan potensi operasi darat dinilai akan menjadi bencana besar.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali melancarkan gelombang serangan rudal ke sejumlah wilayah di Israel dan aset Amerika Serikat di Timur Tengah pada Senin (30/3/2026), dengan Komandan Angkatan Udara IRGC Jenderal Majid Mousavi mengatakan operasi pembalasan ini menargetkan industri strategis yang terkait dengan AS dan Israel.

“Pembalasan atas agresi terhadap infrastruktur Iran sedang dilakukan melalui penghancuran industri strategis yang terkait dengan musuh Amerika-Zionis di kawasan tersebut,” kata Mousavi dalam unggahan di X pada Senin (30/3/2026).

“Sejauh ini, industri kimia Ne'ot Hovav di wilayah pendudukan, satu kilang minyak, dua kompleks baja, dan dua kompleks aluminium raksasa telah dihancurkan, dan serangan menyakitkan ini akan terus berlanjut sampai kita melihat rasa sakit di mata kalian,” tegas jenderal IRGC itu kepada Israel dan AS.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei juga mengejek laporan kekurangan rudal Tomahawk di Washington melalui unggahan di akun X pribadinya pada Senin (30/3/2026), dengan menyoroti bahwa AS telah menyia-nyiakan persenjataannya pada target sipil.

“Jika mereka menyimpan dua rudal yang mereka tembakkan ke sekolah Shajareh Tayyebeh di Minab pada 28 Februari, mereka bisa dengan bangga membual hari ini memiliki dua rudal Tomahawk tambahan dalam inventaris mereka untuk dijatuhkan ke sekolah lain, universitas, rumah sakit, atau situs budaya-sejarah,” kata Baqaei dalam cuitannya.

Unit Pertahanan Udara Iran dilaporkan telah menembak jatuh lima pesawat tak berawak Hermes 900 canggih milik rezim Zionis Israel di atas pantai selatan negara itu, dengan drone yang diproduksi Elbit Systems tersebut diperkirakan bernilai sekitar 10 juta dolar AS per unit.

IRGC mengumumkan dalam pernyataan pada Ahad (29/3/2026) bahwa gelombang ke-86 operasi True Promise 4 diluncurkan dalam format multi-tahap, melibatkan serangan rudal dan drone terkoordinasi oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut IRGC terhadap target AS dan Israel di wilayah tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung