Repelita Jakarta - Cendekiawan senior Mohamad Sobary melemparkan kecaman mendalam terhadap corak kepemimpinan Presiden ke-7 Joko Widodo yang dinilai kerap membungkam suara kritis lewat jalur pemenangan hukum.
Ia secara gamblang menilai mantan walikota Surakarta tersebut lihai dalam melumpuhkan eksistensi karier, nama baik, hingga kebebasan berpikir para tokoh yang berani bersuara lantang menentang arus kebijakan istana.
ADVERTISEMENT
Ulasan tajam dari mantan kepala lembaga penyiaran publik ini diutarakan saat dirinya menghadiri sesi wawancara khusus pada program bincang Madilog di saluran penyiaran digital Forum Keadilan TV.
Ia memberikan sorotan tajam pada perkara hukum yang memenjarakan Bambang Tri Mulyono pasca-menulis ulasan investigatif mengenai dugaan manipulasi berkas pendidikan sang kepala negara.
"Jokowi terlatih membunuh orang. Bung Bambang Tri kan dibunuh kehidupan intelektual, kehidupan jurnalisme dibunuh itu. Dimatikan dengan cara menghukum," tegas Sobary dikutip Jumat (15/5/2026).
Sobary mensinyalir adanya kecenderungan sistematis di mana pasal pidana konvensional kerap dikonversi menjadi perisai tangguh pelindung citra penguasa dari terpaan isu miring.
Baginya segala bentuk ekspresi korektif dari publik yang berpotensi merongrong wibawa pemerintah akan dengan sangat agresif diseret ke meja penyidik kepolisian atas delik pencemaran nama baik.
"Segala sesuatu dihadapi dengan ringan, yang mengancam dianggaplah itu pelecehan, dianggaplah itu pencemaran nama baik. Pencemaran nama baik lalu dilaporkan polisi," lanjut Sobary.
Rentetan kritik ini semakin memperpanjang daftar perdebatan di ruang publik mengenai batas toleransi kebebasan berekspresi warga negara berhadapan dengan instrumen penegakan hukum negara.
Sobary menyamakan fenomena resistensi publik saat ini dengan pementasan sandiwara tradisional masa lampau bernuansa satire politik yang kini direlevansikan sebagai bentuk kejatuhan legitimasi politik sang presiden.
"Ini lakon 'Patine Jokowi'. Kematian politiknya. Kematian politik, kematian pengaruh Jokowi mati oleh serangan bukan serangan, tapi oleh pertanyaan mengenai ijazah," tegas Sobary.
Dirinya menganggap kehadiran deretan pengamat vokal seperti Dokter Tifa dan Roy Suryo serta gelombang gugatan yudisial dari mahasiswa merupakan variabel kejut yang tidak diantisipasi penguasa.
"Dua orang ini (Kanjeng dan Dokter Tifa) dilengkung tidak bisa, tapi juga tidak patah. Dia tidak getas sama sekali. Mau dilengkung ya manut dilengkung aja melengkung tapi balik lagi nglawan (melawan). Dan inilah kekuatan yang bakal membuat dia ditelanjangi," kata dia.
Selain perkara Bambang Tri, dirinya juga meratapi tersingkirnya para pemikir ekonomi kerakyatan seperti mendiang Rizal Ramli dan Faisal Basri hingga dicopotnya teknokrat Ignasius Jonan dari kursi birokrasi.
Ia mencontohkan keputusan pencopotan Jonan dari kabinet kerja murni terjadi akibat sang menteri memberikan telaah kritis yang rasional berbasis efisiensi anggaran atas megaproyek transportasi kereta cepat.
"Jonan mati lah politiknya. Itu patinya Jonan. Jonan mati secara politik dalam perspektif penguasa. Tapi Jonan hidup sepanjang masa dalam perspektif politik kerakyatan," kata Sobary.
Bagi Sobary topeng kesederhanaan yang selama ini menjadi komoditas politik utama mantan gubernur Jakarta tersebut kini sudah sepenuhnya luruh di hadapan gelombang kesadaran kritis masyarakat luas.
"Sudah tidak ada penutup apapun. Tidak punya apa-apa lagi yang bisa menyembunyikan kebohongannya, yang bisa menyembunyikan pura-puranya, yang bisa menyembunyikan psikologi politiknya Jokowi," pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok