Repelita [Jakarta] - Budayawan senior Mohamad Sobary melontarkan kritik pedas mengenai tabiat mantan kepala negara Joko Widodo dalam menghadapi berbagai pusaran kontroversi publik.
Sikap enggan mengalah terus ditunjukkan oleh figur nomor satu masa lalu tersebut meski dihadapkan pada tuntutan hukum serta perdebatan seputar keabsahan dokumen akademiknya.
ADVERTISEMENT
Jokowi tidak mau kalah.
Meskipun sebenarnya nalar kita mengatakan tidak mungkin ijazah ini asli, ujar Sobary, Selasa (28/7/2026).
Lingkungan kekuasaan yang pernah dikuasainya memicu kemunculan barisan oposisi kuat dari pelbagai penjuru kelompok masyarakat.
Musuhnya Jokowi itu berlapis-lapis, tuntutan yang berlapis-lapis.
Jokowi tidak mau kalah, sebutnya.
Transformasi karakter personal disoroti secara tajam lantaran latar belakang kehidupan masa lalu yang sangat sederhana kini berbanding terbalik dengan pencapaian materialnya.
Duit punya dan ini sesuatu yang dilapis-lapis.
Kalau Jokowi adalah Jokowi Wong Deso, mari kita tarik Jokowi sebagai orang pinggir kali.
Ya otomatis miskin, Sobary menuturkan.
Kondisi perekonomian keluarga masa kecil yang serba kekurangan tidak lagi mencerminkan realitas status sosial sang mantan pemimpin saat ini.
Orang pinggir kali hidup dalam kelas sosial semacam itu.
Sekolahnya keteter semacam itu, segalanya parah, tambahnya.
Akumulasi kekayaan serta pengaruh politik jangka panjang mengubah tabiat asli figur tersebut menjadi kekuatan dominan yang mengintimidasi.
Tapi dia kan tidak seperti itu, dia sudah berubah menjadi suatu monster yang sangat menakutkan, imbuhnya.
Indikasi gangguan kejiwaan berupa megalomania dinilai tecermin jelas melalui deretan fenomena manuver politik praktis selama memegang tampuk kekuasaan tertinggi negara.
Punya duit, pernah berkuasa, pernah memiliki ambisi sangat besar.
Pernah merasa dirinya megalomania.
Aku orang besar, jelasnya.
Gejala kejiwaan tersebut bermanifestasi bukan pada gestur keseharian, melainkan lewat berbagai kebijakan strategis kontroversial di lapangan.
Anda megalomania yang berlebih-lebihan, nampak pun megalomania itu.
Bukan dalam tingkah laku dia, tapi megalomania dalam fenomena-fenomena-fenomena lapangan, sambung dia.
Puncak dari syahwat politik tersebut terlihat nyata Tatkala suksesi kepemimpinan nasional dimanipulasi sedemikian rupa demi melanggengkan dinasti keluarga.
Maka ketika anaknya menjadi Wapres dan menempuh segala cara.
Oh dituruti megalomania ini.
Hasrat berkuasa yang menggelega itu.
Itu dituruti semua, bebernya.
Hilangnya kesadaran diri terhadap asal-usul kerakyatan dinilai sebagai akibat fatal dari mabuk kekuasaan yang berkepanjangan.
Dan itu membuat dia hilang dari dasar-dasar dirinya, dia lupa siapa sebenarnya dirinya, timpalnya.
Standar kualitas intelektual turut dipertanyakan seiring rentetan polemica berkepanjangan yang melanda lingkaran terdekat kekuasaan Istana.
Nah lupa diri semacam itu tanda memang pendidikan tidak bagus, cetusnya.
Kritik pedas turut dialamatkan langsung kepada sang wakil presiden menyusul rekam jejak pernyataan publik yang dinilai minim kapasitas akademis.
Anaknya itu kan tidak tahu bahwa dia bodoh.
Tempo hari ingat sesudah Pilpres dia menepuk dada.
Beberapa hari yang lalu saya dianggap pelonga-pelongo, ungkapnya.
Serangan verbal tersebut dilanjutkan dengan mempertanyakan substansi kemampuan berpikir sang pejabat negara meski telah menduduki posisi teras pemerintahan.
Terus saya bilang, emang kamu sekarang tidak pelonga-pelongo? Memang sesudah kau menjadi wakil presiden kau tidak pelonga-pelongo? Kau tetap pelonga-pelongo, tandasnya.
Posisi jabatan eksekutif tertinggi ditegaskan tidak akan mampu mendongkrak kapasitas intelektual seseorang yang sejak awal memang minim kecerdasan.
Orang yang berpikir tentang kapasitas akademik tetap kau pelonga-pelongo.
Biar kau jadi apapun kau pelonga-pelongo.
Tidak akan berubah, tandasnya.
Meroketnya status sosial berkat jalur kekuasaan tidak serta-merta menghapus tabiat kebodohan personal yang melekat pada diri seorang pejabat publik.
Ketololan tetap ketololan.
Tidak berubah.
Banyak Bung di Republik ini kalau kita berjalan di jalan gitu untuk mencari orang yang diatasnya Wapres, kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok