Repelita Makassar - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan tetapi juga mendorong pergerakan ekonomi di daerah khususnya desa.
Ia menyebut kritik terhadap program tersebut kerap muncul dari pihak yang tidak memahami kondisi masyarakat kurang mampu sebagaimana mestinya.
ADVERTISEMENT
“MBG jangan dilihat berdiri sendiri. Ini penggerak ekonomi di desa, dari hortikultura, sayur-sayuran, hingga peternak ayam dan telur semuanya bergerak. Mungkin yang mengkritik tidak pernah merasakan miskin,” ujar Amran di Makassar pada Rabu (8/4/2026).
Amran menjelaskan bahwa MBG merupakan investasi jangka panjang pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya bagi anak-anak yang rentan kekurangan gizi.
Ia menekankan bahwa program tersebut tidak berorientasi pada kepentingan politik jangka pendek karena mayoritas penerima manfaat berasal dari kalangan pelajar yang belum memiliki hak pilih.
“Ini investasi untuk anak-cucu kita. Kita tidak boleh ego, karena masih banyak anak-anak yang kelaparan dan angka stunting kita masih di kisaran 21 persen,” tegasnya.
Selain berdampak pada sektor kesehatan, program MBG turut menciptakan permintaan besar terhadap produk pertanian dan peternakan di dalam negeri.
“Bayangkan jika ratusan triliun rupiah berputar di desa. Peternak ayam, telur, sapi, dan kambing semuanya bergerak. Ini menjadi off-taker besar bagi produk petani dan peternak,” bebernya.
Untuk memperkuat dampak ekonomi, pemerintah mengintegrasikan program MBG dengan Koperasi Desa atau Kelurahan (Kopdes) Merah Putih guna memangkas rantai distribusi pangan.
“Dari petani langsung ke koperasi desa, lalu ke konsumen. Rantai pasok yang dulu panjang bisa dipangkas, sehingga keuntungan lebih besar dinikmati petani dan masyarakat,” tutur Amran.
Pemerintah juga mendorong hilirisasi protein melalui pembangunan peternakan terintegrasi dengan melibatkan BUMN untuk memastikan ketersediaan pakan dan bibit serta menjaga stabilitas harga.
Sementara itu, pegiat media sosial Herwin Sudikta merespons temuan lembaga riset POREC yang menyebut sebagian besar manfaat program MBG justru mengalir ke kalangan elite.
“Publik menilai 88,5 persen manfaat MBG mengalir ke elit politik dan mitra dapur SPPG, sementara ke anak-anak cuma 6,5 persen,” ujar Herwin dikutip pada Senin (6/4/2026).
Herwin juga menyoroti lemahnya pengawasan dan transparansi anggaran program tersebut dengan pernyataan “Anggaran gede, pengawasan lemah, transparansi abu-abu. Programnya buat gizi. Yang gemuk malah kepentingan.”(*)
Editor: 91224 R-ID Elok